Berita Utama

Merah Putih UK Petra Masuk MURI
16 Agustus lalu, saat bersejarah bagi UK Petra yang mencatatkan dalam Museum Rekor Indonesia (MURI), untuk kategori pemilik merah putih raksasa. Bendera yang disahkan oleh MURI itu berukuran 47 x 24,4 meter. Rekor ini memecahkan rekor yang dimiliki Jawa Pos 4 tahun silam.
"Kami membuat bendera, bukan karena ingin mencatatkan diri dalam MURI. Tapi ada hal lain yang ingin kami capai, mengekspresikan nasionalisme dan pengakuan bahwa merah putih adalah bendera kita. Dan kita adalah bangsa Indonesia," ujar Bagus, koordinator pelaksana pembuatan bendera raksasa. Memang bendera raksasa tersebut murni dan total dijahit tangan oleh mahasiswa UKP. "Tiap hari kami menggelar kain di selasar P, dan tiap hari itu pula mahasiswa UKP yang lewat di selasar P lantai 1 ikut bergabung untuk menjahit bendera," timpal mahasiswa Informatika ini.
Bendera yang dikerjakan sekitar 100 mahasiswa setiap harinya ini menghabiskan 30 dos benang wol dan 20 pak jarum. Ide untuk membuat bendera raksasa sendiri sudah ada sejak bulan Mei lalu dan hendak dikibarkan pada hari Kebangkitan Nasional. Karena dana tak kunjung turun, pihak BEM sepakat untuk menundanya hingga Agustus.
Penjahitan bendera membutuhkan waktu seminggu, "Waktu segitu sebenarnya sangat mepet. Tapi di tengah kepanikan, kami tetap percayakan hal ini pada tangan Tuhan. Biar Tuhan yang tuntun kami untuk selesaikan bendera ini. Walaupun kami harus lembur sampai pagi, tapi akhirnya kami merasakan kepuasan yang luar biasa saat meliht bendera itu berkibar dengan megahnya," sahut Bagus.
Hingga detik-detik terahir pada 16 Agustus, Pembantu Rektor III, Kepala BAKA dan Kepala DMU ikut menjahit bendera. "Pada saat-saat terakhir, mereka ikut serta menjahit. Mereka juga ikut berusaha agar bendera bisa berkibar malam itu juga," sambungnya.. Mengapa kesannya tergesa-gesa? "Sebenarnya, kami menghendaki bendera ini dikibarkan keesokan harinya, seusai upacara. Tapi pihak MURI sendiri yang menyatakan bahwa bendera ini sudah disahkan dan mesti dikibarkan sebagai tanda pengesahannya, pengibarannya pun mesti malam itu juga," ujar Bagus.
Walhasil sekitar pk. 20, bendera dibawa ke lt. 9 Gedung W UKP. Keputusan memilih lantai 9 dikarenakan harus mendapat ancor untuk tempat melilitkan tali bendera, agar bendera bisa berkibar. Pada proses pengibaran, selain melibatkan Mahasiswa Petra Pecinta Alam (MATRAPALA), juga melibatkan tenaga sukarelawan dari mahasiswa yang hadir di tempat ditambah beberapa mahasiswa Teknik Sipil dan Arsitektur untuk menghitung kekuatan angin serta daya tahan bendera.
Sekitar 2 jam lamanya para pengunjung yang hadir di UKP menunggu, mereka juga tampak risau. "Hoi, kok lama banget sih," celetuk salah satu pengunjung. Tapi tepat pk. 22 mereka pun bersorak riuh, sembari menyanyikan lagu Berkibarlah Benderaku. Saat yang dinantikan pun tiba, tampak kain putih mulai diturunkan terlebih dahulu. Perlahan-lahan kain putih itu turun menyelimuti bagian depan gedung W UKP. Hingga pada akhirnya tepuk tangan makin riuh ketika warna merah mulai nampak. Dan puncaknya pengunjung memberi apaluse panjang pada para pengibar, setelah bendera itu berkibar penuh tepat pk 23.
"Saya sempat kuatir saat proses pengibaran. Bayangkan, mereka yang di lantai 9 harus menahan bendera yang begitu beratnya untuk diturunkan perlahan-lahan. Ditambah kondisi angin yang kencang membuat MATRAPALA tidak memungkinkan untuk melakukan raftling. Saya yang berada di bawah hanya bisa berdoa terus-menerus, kiranya Tuhan menyertai mereka, dan akhirnya proses itu berjalan dengan lancar," kata Bagus sambil terharu.
Bendera terbesar ini dikibarkan selama 17 jam. Pada 17 Agustus, bendera diturunkan pk. 16 dengan kondisi kain putih robek. "Robeknya kain putih sudah kami perkirakan, tidak kompletnya tulangan yang menyebabkan bendera itu robek. Bayangkan saja, kami baru buat tulangan pk. 17.30, dan pk. 20. Kami di deadline harus menaikkan bendera itu untuk segera dipasang, mana cukup waktunya. Kekuatan bendera sendiri hanya 15 jam," sahut Bagus. Tapi dari semua itu yang paling berkesan bagi Bagus adalah semangat rekan-rekan Bagus yang ikut serta dalam membuat bendera, mulai dari awal hingga bisa berkibar dengan megahnya. "Berkali-kali saya tekankan agar yang dipikirkan jangan MURI-nya. Tapi rasa nasionalisme yang jadi tujuan kita, pengekspresian itu sendiri yang kita cari. Ingat bahwa bangsa yang tangguh adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Inilah salah satu cara kami untuk membalas jasa mereka," kata Bagus.
Dilaporkan oleh Iman
Editorial
Merah putih berukuran 24,4 x 47 itu akhirnya berkibar juga di malam 16 Agustus. MURI pun mengukuhkannya sebagai bendera terbesar dengan jahitan tangan yang dikerjakan oleh akademisi.
Menjahit bendera pun dilakukan secara gotong royong selama seminggu di depan kantin gedung P. Tak ada kepanitiaan khusus. Hanyalah ajakan saat para mahasiswa lalu lalang. Ajakan menjahit itu pun tak kenal gender, pria wanita sibuk menjahit.
Demikian pula saat pengibaran bendera. Mereka yang kebetulan berada di situ langsung membantu. Kenal atau tidak, tak jadi masalah.
Kesehatian, kekompakan, rasa cinta tanah air menjadi satu di malam 16 Agustus lalu. Walau bendera raksasa itu telah diturunkan, kobaran semangatnya masih terasa. Semangat kemerdekaan yang tak pernah luntur. Merdeka!
Renungan
Vox Populis Vox Deo
Dalam tema ini kita membahas satu teori yang dimunculkan oleh orang-orang yang selama ini
berkancah di dalam memikirkan bangsa dan negara, khususnya Rousseau yang berpandangan
kehendak rakyat yang berdaulat. Maka kemudian muncul suara seperti yang ditulis pada tema
kita. Apakah suara rakyat adalah benar suara Tuhan?
lanjutan...