Seputar
Dr. Ir. Frans Soehartono,
Kepala LPPM Berlatar Belakang Arsitek

"Saat ini LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) telah berjalan sesuai dengan visi dan misi Universitas. Untuk lebih memajukan dan mengembangkan LPPM UK Petra, kami merencanakan untuk mengadakan studi banding ke beberapa perguruan tinggi. Lewat studi banding itu kami akan mengevaluasi dan mengembangkan LPPM. Program LPPM saat ini adalah program yang akan dilaksanakan bersama antara Puslit dan PPM," ujar Frans ketika ditanya tentang programnya sebagai kepala LPPM yang baru.
Frans Soehartono, alumnus Arsitektur UKP ini tak pernah mengharapakan untuk menjabat sebagai kepala LPPM. Usai lulus dari Arsitektur UKP, beliau melanjutkan studinya di University of Queensland, Australia atas beasiswa dari UKP. Sekembalinya dari Queensland, suami dari Wiwiek Djojosaputro ini menjabat sebagai kepala Laboratorium Sains Lingkungan Jurusan Arsitektur. Kemudian bersama dengan tim dosen Arsitektur UKP dan dibantu Prof. Dr. S.V. Szokolay dari University of Queensland (profesor pembimbing), merancang laboratorium Sains Lingkungan yang sampai sekarang masih berdiri di dekat gedung P, di sebelah Mitra-net
Disebabkan oleh karena tuntutan kebutuhan pendidikan ketiga putra dan putrinya, beliau terpaksa mengundurkan diri dari jabatan kepala Laboratorium Sains Lingkungan untuk berkiprah di luar sebagai arsitek dan graphic designer. Tetapi tetap mengabdi kepada UKP sebagai dosen Sains Lingkungan (sekarang Sains Arsitektural) dengan spesialisasi pengendalian panas pasif. Setelah ke-3 anaknya selesai studi, Frans yang telah mengabdi di UKP sejak 1 September 1975, berusaha untuk menyumbangkan lebih.
PPM dan Puslit
Saat ditanya tentang badan yang dibawahi LPPM, Frans menjawab, "Ada 2 badan lagi yang dibawahi LPPM, yaitu PPM (Pusat Pengabdian Masyarakat) dan Puslit (Pusat Penelitian)."
Untuk Puslit (Pusat Penelitian) Frans menerangkan, Puslit berusaha mendorong pengembangan iklim penelitian yang telah ada dengan mengadakan lokakarya, seminar-seminar dan memfasilitasi pembentukan pusat-pusat studi yang ada di jurusan, fakultas ataupun universitas. Dengan terbentuknya pusat-pusat studi, diharapkan lebih banyak dosen, peneliti dan mahasiswa UKP yang terlibat dalam penelitian.
Untuk PPM, kegiatan yang sudah menjadi agenda tahunan dalam bidang service Learning adalah COP (Community Outrecth Program). Melalui COP, diharapkan mahasiswa UKP dan asing ikut serta dalam usaha pengembangan desa. "Kegiatan ini sangat berguna bagi mahasiswa untuk dapat ikut memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, bergaul dengan masyarakat desa dan melatih diri untuk bekerja sebagai satu team yang terdiri dari berbagai bangsa dan keahlian yang berbeda," kata pria kelahiran Malang, 4 September 1946 tersebut.
Sayang sekali bahwa minat mahasiswa UKP masih sangat kurang dibandingkan dengan mahasiswa asing. Bahkan mahasiswa UKP sendiri yang ikut kebanyakan dari jurusan Arsitektur. Dalam kunjungan ke lapangan COP lalu, para peserta merasa enjoy dengan aktivitasnya selama mengikuti COP. Dengan bangga mereka menunjukkan hasil karya mereka yang berguna bagi penduduk desa. Peserta COP tidak hanya kerja melulu tapi di hari Minggu, mereka diberi kesempatan rekreasi di daerah sekitar. Dari hasil kuesioner yang diterima, alasan banyaknya mahasiswa UKP yang tidak ikut COP dikarenakan mereka tidak mengetahui program tersebut. Kurang promosi? Untuk ini, Frans mengharap agar Fakultas dan Jurusan dapat ikut mendukung program yang sangat berguna ini.
Disamping COP, masih banyak kegiatan Pendampingan dan Pengabdian Masyarakat yang dilaksanakan oleh PPM. Bagi Frans Soehartono, LPPM diharapkan mampu berjalan sesuai dengan visi dan misi untuk menjadi lembaga yang mampu mendorong dan mendukung kegiatan penelitian di lingkungan UKP dengan melibatkan lebih banyak sivitas akademika.
Dilaporkan oleh Iman
"Creativity is Priceless"
Seminar dan Pameran Karya Tugas Akhir Fakultas Seni dan Desain UK Petra

Sebuah ide dan kreatifitas sangat tidak ternilai harganya dan inilah yang ingin ditegaskan oleh Fakultas Seni dan Desain dalam The Crossing Project, sebuah pameran perdana yang mempertemukan karya Tugas Akhir (TA) jurusan Desain Interior, Desain Komunikasi Visual dan Program Pendidikan Komunikasi, Arsitektur dan Interior (D3 PPKAI) UK Petra. Awalnya hanya jurusan Desain Komunikasi Visual yang memamerkan karya Tugas Akhir terbaik mahasiswanya setiap tahun sejak 2002, (biasanya diikuti dengan pemilihan karya terbaik dalam kategori komik/ilustrasi, audio visual, promosi, iklan layanan masyarakat (ILM), corporate identity, animasi dan skripsi) maka tahun ini melibatkan jurusan lain dalam satu fakultas (Fakultas Seni dan Desain - FSD) untuk bersama-sama mempromosikan 'produk' desainer yang lahir dari lingkungan akademis ke masyarakat luas.
Mengawali pembukaan pameran pada 7-8 Agustus ini, digelar sebuah seminar Periklanan pada 7 Agustus pukul 10.00-13.00 WIB bertempat di ruang Audio Visual 502 UK Petra. Seminar yang mengupas tuntas seluk beluk periklanan ini menghadirkan pembicara, Didit Indra (Executive Creative Director BBDO Komunika Indonesia) dan Haris (Art Director BBDO Komunika Indonesia).
Didit dan Haris menyuguhkan penayangan contoh-contoh iklan kreatif dan imajinatif yang diproduksi oleh cabang BBDO di seluruh dunia. Contohnya saja iklan susu kalsium yang mengambil gambar foto rongent tulang manusia yang rapuh dan patah karena tidak mengkonsumsi susu berkalsium. Didit dan Haris juga membagikan trik menciptakan iklan yang kreatif agar produk yang diiklankan menjadi efektif dalam penjualannya. Menurut mereka iklan yang kreatif adalah iklan yang selain orisinil juga menciptakan sesuatu yang berbeda. Contohnya untuk membuat iklan rokok. Dalam aturan yang ditetapkan oleh dunia pertelevisian, dilarang keras untuk menayangkan bentuk rokok atau orang yang sedang merokok. Nah, tugas creative designer adalah menciptakan sebuah iklan yang membuat penonton dapat mengetahui karakteristik rokok tersebut tanpa perlu diperlihatkan gambarnya. Selain itu iklan yang efektif hendaknya bermottokan "Like Ability." Kalau di Indonesia mayoritas publik menyukai iklan yang lucu, maka ciptakanlah sebuah iklan yang lucu selain kreatif dan orisinil, pasti orang akan tertarik dan mencari tahu produk apa itu.
Usai mengikuti seminar, panitia, peserta, dan pengunjung pameran karya tugas akhir (TA) berangkat menuju AJBS Pasar Raya, Surabaya Convention Hall untuk menghadiri pengguntingan pita yang menandai dibukanya pameran karya tugas akhir bertema CREATIVITY IS PRICELESS. Tepat pukul 15.00 pengguntingan pita dilaksanakan oleh Rektor UK Petra, Ir. Paul Nugraha, M.Eng.,M.Sc. Sesaat setelah dibukanya pameran, para pengunjung mulai membludak untuk menyaksikan karya-karya tugas akhir mahasiswa Fakultas Seni dan Desain UK Petra ini hingga pukul 20.00.
Karya-karya yang dipamerkan sungguh-sungguh berpacu dalam ide, konsep, dan eksekusi. Mereka berlomba untuk menghasilkan karya yang 'mumpuni' dan mempunyai 'harga jual' laksana karya-karya yang telah dihasilkan oleh biro-biro periklanan, desain grafis, ilustrasi, production house (PH) maupun interior. Sangat disadari bahwa untuk dapat menghasilkan karya ini adalah sebuah proses yang panjang dan melelahkan. Sebuah kreatifitas tidak hanya dihargai dari sekedar eksekusi atau hasil akhir, namun pencapaian ide dan konsep serta pemecahan masalah yang ada dalam sebuah kasus dan mampu berkompetisi dengan karya lain. Hal ini menjadi irama tersendiri untuk menentukan suatu karya tersebut berkualitas atau tidak. Karena itu dalam menentukan tema besar dalam pameran ini yaitu CREATIVITY IS PRICELESS tidaklah berlebihan untuk mengungkapkan perjuangan mahasiswa dalam pencapaian karya terbaiknya.
Ambil saja contoh karya TA dari Winny Sidharta yang sangat membius pengunjung pameran. Winny menghasilkan sebuah karya komik berjudul "Jun yang Tak Kunjung Pulang." Dalam proses pembuatannya, keseluruhan karya Winny adalah lukisan tangannya sendiri. Bahasa desainnya, karya Winny menganut aliran Hyper Realistic, yaitu karya yang sangat tegas dalam mem-visualisasi-kan bentuk ekspresi wajah dan tubuh.
The Crossing Project menjadi suatu bukti bahwa karya-karya terbaik TA Fakultas Seni dan Desain UK Petra tahun 2004, bisa menjembatani kebutuhan pasar industri yang juga sangat kompetitif dan menuntut banyak hal. Industrilah yang akan menjadi 'penyaring' dan kunci tentang kesiapan mahasiswa menapaki masa depan yang panjang atau menggapai cita-cita yang mereka impikan.
Dilaporkan oleh Eva
"KEMESRAAN" warnai closing ceremony cop 2004

Community Outreach Program (COP) 2004 di Kediri telah berlalu. Banyak sekali pengalaman berharga yang didapat peserta. Pada penutupan yang berlangsung di gedung EH lantai 2, 10 Agustus lalu tampak sekali kebersamaan di wajah para peserta. Jika pada keberangkatan 12 Juli lalu masih banyak diantara mereka yang berkelompok dengan teman senegaranya, pada acara ini mereka sudah tampak akrab dengan teman-teman dari negara lain.
Acara dibuka oleh sambutan dari Rektor UK Petra, Ir. Paul Nugraha, M.Eng., M.Sc. Dalam sambutannya, beliau berharap agar para peserta yang sudah mengikuti COP dapat menikmati perjalanan mereka selama di Indonesia. Dalam acara ini, perwakilan dari masing-masing negara juga memberikan sambutannya. Mereka adalah Cheung Kit Yan (Hongkong Baptist University), Ingmar Sauer (InHolland University), Stephanus (UK Petra), Yuka (International Christian University Tokyo) dan Kim A Rum (Dong Seo University Korea). Dari sambutannya, rata-rata dari mereka merasa sangat senang bisa mengikuti COP di Kediri. Mereka juga sangat terkesan dengan keramahan warga desa tempat mereka tinggal. Perwakilan dari kelima negara ini juga menerima kenang-kenangan dari Rektor UK Petra.
Acara dilanjutkan dengan talent show yang dibawakan seluruh anggota peserta dari tiap desa. Dalam adu kreativitas ini, terlihat sekali kekompakan mereka setelah sebulan penuh bersama. Masing-masing kelompok mempunyai keunikan sendiri. Kelompok dari Dusun Ngesong menyanyikan lagu Cucakrowo dengan versi mereka dan dalam berbagai bahasa. Ekspresi dan cara bernyanyi mereka yang kaku membuat peserta lain dan para penonton tertawa. Salah satu penampilan yang membuat penonton terharu adalah saat kelompok dari Dusun Kopen menyanyikan lagu Kemesraan sambil bergandengan tangan. Mereka terlihat sangat fasih menyanyikan lagu Kemesraan dalam Bahasa Indonesia. Ditengah-tengah lagu, penonton ikut bertepuk tangan dan bernyanyi bersama. Saat ditanya tentang kesan-kesan mereka setelah mengikuti COP, mereka merasa senang bisa mengenal budaya di Indonesia. "Di negara saya tidak ada kegiatan seperti ini," kata Laia Reedijk, peserta COP dari InHolland University.
Kata mereka
Sharony
(InHolland University, Belanda) : "Melalui program ini, saya bisa belajar banyak tentang kebudayaan yang ada di Asia. Saya pernah ke Indonesia bersama keluarga untuk liburan di Bali. Saya sangat senang sekali dengan negara ini. Penduduk ramah, mereka mau membantu saat para peserta dalam kesulitan. Saya punya pengalaman lucu, saat awal saya berada di dusun. Saya mencoba bertanya sesuatu pada penduduk sekitar, tapi penduduk sekitar malah melontarkan keinginannya untuk mencium Sharony. Saya terkejut."
Robin
(Arsitektur, UK Petra): "Saya bisa bekerjasama dengan orang-orang dari luar negeri. Ini pengalaman baru bagi saya. Melalui program ini, saya juga bisa tahu bagaimana seharusnya kita jika terjun ke masyarakat."
Yuka
(Language International, International Christian University, Tokyo, Jepang) : "Menurut saya, penduduk sini masih miskin. Bahkan untuk makan sehari-hari, mereka tak perlu beli. Mereka cukup mengambil yang ada di ladang. Di sini Yuka mengecat TK Bhakti Luhur dan memberikan pengobatan pada penduduk sekitar. Penduduk sekitar sangat welcome pada saya dan sangat membantu para peserta COP."
Kim Se Joo
(Computer Engineering, Dong Seo University, Korea Selatan) : "Mengikuti COP, saya mendapatkan banyak pengalaman baru. Menurut saya, seharusnya pemerintah memperhatikan pendidikan sampai ke tempat terpencil seperti di Kopen ini."
Dilaporkan oleh Fanny / Iman
Sandy Hosen
Buat Tugas Akhir Untuk Pemilu

Sandy Hosen, mahasiswa jurusan Teknik Elektro UKP menciptakan alat untuk mempermudah proses Pemilu di Indonesia. Alat yang menjadi bahan tugas akhirnya (TA) diberi judul "Sistem Pemilihan Umum Elektronik Yang Berbasis Mcs-51". Karya TA ini merupakan salah satu karya yang turut dipamerkan di Indonesia City Expo bertempat di Pakuwon Trade Center, Surabaya, 31 Juli - 8 Agustus lalu.
Alat ini memiliki 5 bagian utama, 4 bagian yang terhubung langsung dan sisanya merupakan bagian terpisah (terhubung secara tidak langsung). 4 bagian itu antara lain minimum system untuk pusat kontrol, display antrian, printer untuk mencetak, touch screen dan LCD grafik sebagai pengganti kertas suara. Ketika ditanya mengapa memakai sistem tersebut untuk alatnya? Sandy menjawab, "Mcs-51 merupakan sistem mikroprosesor yang sudah umum bagi kita. Mcs-51 itu lebih mudah dipelajari dibandingkan dengan AVR." Kebutuhan akan memory yang besar juga menjadi pertimbangan bagi Sandy menggunakan Mcs-51. Software yang digunakan adalah kompiler dari Mcs-51 yaitu Mcs-51 Assembler.
Sistem yang dibuat Sandy memakan waktu 1 semester. Selama 1 semester, dia menghabiskan banyak waktu untuk belajar tentang LCD grafis dan touch screen yang masih asing baginya. Sistem kerja dari alat ini diawali dari Pemilu untuk legislatif lalu. Pada Pemilu tersebut kita diwajibkan memilih caleg untuk DPR, DPRD I, DPRD II, serta DPD. "Kerja alat ini sama dengan Pemilu manual yang kita gunakan. Pertama, kita pilih caleg untuk DPR dulu lantas dikonfirmasi apakah pilihan kita benar atau tidak. Jika benar, maka pilihan kita berlanjut untuk DPRD I dan DPRD II. Tapi kalau pilihan kita salah maka akan kita ulangi lagi prosesnya mulai dari pemilihan untuk caleg DPR," sahut Sandy. Dia juga menambahkan bahwa printer yang digunakan pada alat ini berfungsi untuk mencetak jumlah suara yang ada di TPS. Jadi usai kegiatan pemungutan suara di TPS, secara otomatis alat akan menghitung suara yang ada untuk masing-masing partai dan dicetak sebagai tanda bukti ke KPU pusat. Sebagai petunjuk antrian di TPS, Sandy menggunakan seven segment 3-digit untuk menunjukkan nomor antrian pemilihnya
Ketika ditanya apakah sistem ini tetap bisa menjunjung tinggi kerahasiaan pemilih, Sandy menjawab, "Sistem ini masih belum bisa menjaga kerahasiaan pemilih. Jika ingin seperti itu, sistem ini perlu diinkripsi lagi." Alat senilai 1,6 juta rupiah ini tidak hanya menggunakan Mcs-51 saja, tetapi juga membutuhkan EPROM untuk memorinya, sedangkan EEPROM digunakan untuk penyimpanan data Pemilu.
segi waktu. Seorang pemilih hanya membutuhkan waktu 48 detik untuk memberikan suaranya. "Itu kalau misalnya mereka tidak ada perubahan dalam memberikan suara. Tapi jika mereka mengadakan ralat terhadap suaranya maka waktu yang dibutuhkan 2 kalinya," ujar Sandy. Alat temuan Sandy cukup menguntungkan pemilih. Pemilih bisa mengganti pilihannya, yang tidak mungkin dilakukan dengan cara mencoblos. Proses penghitungan yang cepat dan resiko minimalis untuk kecurangan atau human error, menambah poin plus bagi alat Sandy.
Tentang kelemahan alat, Sandy memaparkan, "Pembuatan alat ini perlu biaya. Belum lagi proses sosialisasinya. Kita mesti sosialisasikan alat ini dengan benar ke masyarakat di pedalaman." Masih kata Sandy, "Secara elektronik, alat ini memerlukan database untuk penyimpanan data suara yang masuk. Sedangkan untuk sekarang, alat saya menggunakan pemetaan memory lokasi." Sedangkan dari segi pengguna, Sandy menambahkan, "Alat ini hanya bisa digunakan oleh orang yang normal. Mereka yang buta tidak bisa memanfaatkan alat ini." Sebagai imbalan atas usaha kerasnya, mahasiswa bimbingan Lauw Lim Untung, S.T. ini memperoleh nilai A untuk karya tugas akhirnya.
Dilaporkan oleh Iman
Donald Hun
Donald Hun Ikuti Pelayaran Kebangsaan IV 2004

20-26 Juni lalu, Donald Hun, mahasiswa jurusan Teknik Industri UK Petra terpilih untuk mengikuti Pelayaran Kebangsaan IV 2004. Kegiatan ini diadakan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi bekerjasama dengan TNI AL. Para pesertanya terdiri atas mahasiswa, Taruna Angkatan Laut, Angkatan Udara, Akademi Polisi dan organisasi pemuda dan keagamaan dari seluruh daerah di Indonesia. Berikut tulisan Donald Hun membagi pengalaman yang dituturkan dalam gaya bahasa saya.
"Mengikuti Pelayaran Kebangsaan IV 2004 bermula ketika Ibu Linda Bustan (Kepala Pusroh, red.) meminta saya dari Pelma dan 2 mahasiswa dari Lembaga Kemahasiswaan mewakili UK Petra ikut serta dalam kegiatan ini. Pelayaran Kebangsaan IV 2004 diadakan bertepatan dengan Ujian Akhir Semester (UAS). Konsekuensinya, saya harus meninggalkan UAS. Berkat dukungan Bapak Gede (Kajur TI) akhirnya saya diizinkan mengikuti ujian susulan.
Kegiatan ini diikuti 147 peserta dari seluruh Indonesia. Tiap universitas diharapkan mengirimkan 1-2 orang perwakilannya. Sebagai prasyarat keikutsertaan, semua peserta diwajibkan membuat makalah yang bertemakan isu-isu kebangsaan yang berkaitan dengan disiplin ilmu masing-masing.
Perjalanan panjang dengan rute Surabaya-Mataram-Surabaya diawali dengan pembekalan materi pada hari pertama. Diantaranya, Wawasan Kebangsaan oleh Daniel T. Sparingga., Phd., Wawasan Kelautan Nusantara oleh Panglima Armatim, dan Pertahanan & Keamanan oleh Deputy VI Menko Polkam.
Perjalanan kami dimulai pada hari kedua dengan menggunakan kapal perang KRI Teluk Banten 516 yang dikomandani oleh Komandan Bambang. Upacara pelepasan dihadiri oleh Mendiknas, KSAL, Gubernur Jatim, dan Menkopolkam.
Selama berlayar menuju Mataram, kami berdiskusi tentang isu-isu kebangsaan yang oleh panitia telah dikelompokkan menjadi 3 tema besar yaitu Isu-Isu Lokal, Nasional, dan Lingkungan. Diskusi dilaksanakan dalam kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 35-40 orang. Tiap kelompok berhak untuk mengatur sendiri bahan diskusi apa yang akan diangkat. Dalam kelompok saya, kami membagi menjadi 3 kelompok kecil yang masing-masing membahas satu dari 3 tema besar yang telah ditentukan.
Diskusi-diskusi yang terjadi baik kelompok maupun pleno berlangsung dengan antusias tinggi. Masing-masing saling mempertahankan pendapat dan tidak mau mengalah. Sempat terjadi ketegangan dengan panitia yang menjadi pemandu diskusi. Akhirnya diskusi diserahkan sepenuhnya kepada peserta untuk dipimpin oleh peserta tanpa dipandu panitia.
Banten berlabuh di dermaga Lembar NTB dan disambut baik oleh Gubernur NTB yang diwakili staf ahlinya. Kami menyempatkan diri berdiskusi tentang masalah Lingkungan Hidup dengan dua narasumber dari Universitas Mataram. Kemudian kami mengikuti kegiatan Serap Budaya di desa Sade di Lombok Tengah untuk agar lebih mengenal kebudayaan Mataram. Di sana kami disambut oleh kepala desa dan tokoh masyarakat setempat dengan meriah. Malam harinya, kami juga diberi kehormatan untuk ramah-tamah dengan Walikota Mataram.
Hari kelima, kami melakukan Bakti Sosial dan Pengabdian Masyarakat di desa Jempong. Kegiatannya berupa pengobatan gratis dan penanaman pohon pelindung. Dari desa Jempong, kami menuju pelabuhan Lembar untuk bertolak pulang ke Surabaya.
Malam harinya, kami berlayar pulang sambil merumuskan rekomendasi, rencana tindak lanjut, dan evaluasi rangkaian kegiatan 6 hari kami yang akan disampaikan pada pemerintah. Tim perumus yang merupakan perwakilan dari tiap-tiap kelompok bekerja keras merumuskan apa yang telah kami diskusikan bersama.
Hari keenam merupakan puncak dari Pelayaran Kebangsaan IV 2004. Kami telah berhasil merumuskan rekomendasi, rencana tindak lanjut, dan evaluasi rangkaian kegiatan kami. Malam harinya digelar Sayonara Party ala pelaut yang sangat meriah. Kami menikmati kegembiraan bersama sambil diiringi Popeye Band, sebuah band yang terdiri dari awak kapal Teluk Banten. Dalam kemeriahan Sayonara Party kami sempat belajar tari salsa dan waltz kepada Septi, seorang Taruna AU tingkat 2. Pesta berakhir sekitar pukul 2 pagi.
Akhirnya pada hari ketujuh kapal kami bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Kami berpisah dan kembali ke daerah masing-masing setelah berfoto bersama. Sungguh suatu pengalaman yang berharga untuk dapat berdiskusi bersama teman-teman mahasiswa yang kritis dan vokal. Saya mendorong teman-teman semua untuk ikut dalam kegiatan-kegiatan nasional seperti ini. Selain memperoleh pengalaman, kita juga dapat membentuk karakter dan pola pikir seorang mahasiswa yang adalah penggerak reformasi bangsa. Sebagai mahasiswa Kristen kita juga harus mewarnai dunia bukan hanya di kampus kita tapi juga di forum-forum berskala nasional. Akhirnya biarlah kemuliaan hanya bagi nama Tuhan Yesus Kristus! Hidup Mahasiswa!
Ditulis kembali oleh Eva
Gebyar Seni Budaya 2004, Gelar Seni Indonesia
Berbagai langkah dilakukan untuk meningkatkan kecintaan mahasiswa akan budaya Indonesia. Salah satunya, yang dilakukan UKM Seni Budaya UK Petra. Mereka mengadakan acara bertajuk Gebyar Seni Budaya (GSB), 18-24 Agustus. Acara yang sudah menjadi agenda tahunan ini resmi dibuka Pembantu Rektor III (PR III) Drs. Heri Saptono Warpindyasmoro, M.Si. Rabu, 18 Agustus. Pembukaan berlangsung di Atrium UKP dan dihadiri kepala BAKA Ir. Daniel Rohi, M.Eng.Sc. serta ketua MPM UKP dan wakil dari mahasiswa KTI (Kawasan Timur Indonesia).
Anita, ketua panitia GSB, dalam sambutannya memaparkan, "Lewat acara ini diharapkan bisa meningkatkan kecintaan mahasiswa pada budaya bangsa Indonesia. Ditambah lewat GSB ini, diharapkan bisa membawa keluarga besar UKP pada suasana kebersamaan." Acara GSB tidak hanya berlangsung di Atrium, tapi acara juga berlangsung di selasar gedung P dan di gedung T. "Di gedung P ada pasar seni yang menampilkan berbagai karya seni. Lantas di gedung T diadakan pemutaran film," ujar ketua panitia GSB.
Ketika ditanya tentang keterlibatan mahasiswa dalam GSB, mahasiswi Sastra Inggris angkatan 2001 dengan antusias menjawab, "Yang dilibatkan di acara ini adalah mahasiswa UKP sendiri, termasuk yang menjaga stand KTI. Mereka sendiri yang menjaga stand daerah asal mereka. Bahkan barang-barang yang ada di stand juga dibawa langsung dari tempat mereka berasal." Jika ditilik di tiap stand, memang banyak terdapat barang-barang kerajinan khas daerah. Seperti di stand daerah Maluku, mereka menampilkan sagu dan souvenir yang terbuat dari kerang ditambah obat-obatan tradisional.
PR III UKP dalam sambutannya mengatakan, "Lewat GSB ini dapat dijadikan sarana untuk berekreasi. Khususnya mereka yang tergabung dalam UKM Seni Budaya, dimana apa yang mereka dapat dari UKM bisa dipraktekkan di sini." Selain itu, beliau juga menghendaki para mahasiswa KTI bisa mengaktualisasikan diri untuk menampilkan kebudayaan mereka.
Sebagai tanda bahwa GSB 2004 telah dibuka, Drs. Heri Saptono Warpindyasmoro, M.Si. menabuh gong yang diikuti klotekan panitia GSB 2004. Setelah resmi dibuka, acara dilanjutkan dengan persembahan lagu mahasiswa Ambon. Mereka mempersembahkan sebuah lagu dalam bentuk akapela. Lagu yang mereka bawakan adalah lagu Glen Fredly yang berjudul Rame-Rame. Lagu tersebut dilantunkan dengan indah sehingga para undangan tampak antusias menikmati lagu.
Dilaporkan oleh Iman
DAFTAR PAMERAN KOLEKSI PERPUSTAKAAN U.K. PETRA
2 - 7 juli 2004
Lihat Koleksi disini
Berita Duka
Telah berpulang ke rumah Bapa Surgawi:
Minggu, 15 Agustus 2004
Telah dimakamkan pada hari Senin, 16 Agustus 2004
Di pemakaman umum Ngagel, Surabaya.
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku
telah memelihara iman"
(2 Timotius 4:7)
Segenap sivitas Universitas Kristen Petra turut berdukacita atas berpulangnya anggota keluarga yang dikashi. Tuhan Yesus selalu memberikan penyertaan dan kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Editorial
Merah putih berukuran 24,4 x 47 itu akhirnya berkibar juga di malam 16 Agustus. MURI pun mengukuhkannya sebagai bendera terbesar dengan jahitan tangan yang dikerjakan oleh akademisi.
Menjahit bendera pun dilakukan secara gotong royong selama seminggu di depan kantin gedung P. Tak ada kepanitiaan khusus. Hanyalah ajakan saat para mahasiswa lalu lalang. Ajakan menjahit itu pun tak kenal gender, pria wanita sibuk menjahit.
Demikian pula saat pengibaran bendera. Mereka yang kebetulan berada di situ langsung membantu. Kenal atau tidak, tak jadi masalah.
Kesehatian, kekompakan, rasa cinta tanah air menjadi satu di malam 16 Agustus lalu. Walau bendera raksasa itu telah diturunkan, kobaran semangatnya masih terasa. Semangat kemerdekaan yang tak pernah luntur. Merdeka!
Renungan
Vox Populis Vox Deo
Dalam tema ini kita membahas satu teori yang dimunculkan oleh orang-orang yang selama ini
berkancah di dalam memikirkan bangsa dan negara, khususnya Rousseau yang berpandangan
kehendak rakyat yang berdaulat. Maka kemudian muncul suara seperti yang ditulis pada tema
kita. Apakah suara rakyat adalah benar suara Tuhan?
lanjutan...