Renungan

Vox Populis Vox Deo

Ev. Harry Limanto, M.Div.

Pembacaan Alkitab : Roma 13 : 1 - 7

Dalam tema ini kita membahas satu teori yang dimunculkan oleh orang-orang yang selama ini berkancah di dalam memikirkan bangsa dan negara, khususnya Rousseau yang berpandangan kehendak rakyat yang berdaulat. Maka kemudian muncul suara seperti yang ditulis pada tema kita. Apakah suara rakyat adalah benar suara Tuhan?

Pembicaraan kita adalah dalam konteks demokrasi. Apakah sebenarnya inti dari demokrasi dan apakah prinsip-prinsip dari demokrasi? Dan bagaimana Alkitab memberikan pandangan mengenai hal-hal tersebut? Memang nats yang kita baca tadi tidak langsung mewakili pemahaman tentang demokrasi, tetapi memberi pengertian yang lebih luas antara relasi keKristenan dan negara. Tetapi nats itu seringkali disalah-mengerti, seolah-olah orang Kristen harus tunduk membabi-buta, tunduk mutlak, sehingga seolah-olah tidak ada sesuatu yang perlu dipertanyakan, diperjuangkan lagi. Apa yang dikatakan oleh pemerintah harus kita ikuti di jalan ketaatan buta. Itu kesalah-pahaman terhadap Roma pasal 13 khususnya ayat 1.

Sebenarnya inti dari demokrasi adalah memahami dan bertoleransi. Toleransi disini merupakan suatu penerimaan dari orang-orang berbeda satu dari yang lain. Toleransi di sini adalah memahami hak orang lain, dan bukan hanya mementingkan hak diri sendiri. Oleh sebab itu di dalam prinsip demokrasi kita menjumpai prinsip kebebasan bukan paksaan. Tetapi prinsip yang kedua di dalam demokrasi adalah kebebasan individu yang tidak boleh mengganggu kebebasan individu lain. Oleh karena adanya dua prinsip ini, maka perlu ada aturan main, atau hukum yang mengatur. Demokrasi yang tanpa aturan bukan demokrasi, tetapi lebih menuju kepada anarkhi. Pada dasarnya demokrasi adalah partisipasi seluruh rakyat dalam mengambil keputusan-keputusan politik dan menjalankan pemerintahan. Keputusan politik yang dimaksudkan di sini adalah kesepakatan yang ditetapkan menjadi aturan yang akan mengatur kehidupan seluruh rakyat. Oleh sebab itu betapa pentingnya perjuangan orang-orang Kristen di DPR, DPRD dan badan-badan pemerintahan yang lain. Karena di situ ada suatu kesepakatan politik yang harus diambil, yang di dalamnya kita terikat di dalam aturan negara bersama. Tidak bisa tidak. Maka kalau ada aturan-aturan yang dibuat tidak di dalam kepentingan demokrasi tetapi kepentingan demokrasi dalam arti tertentu, kepentingan kelompok-kelompok tertentu atau agama-agama tertentu, itu harus dikembalikan ke dalam konteksnya.

Memang Rousseau yang sangat terkenal di dalam pandangannya, mengatakan bahwa kehendak rakyat yang berdaulat. Sebenarnya dalam pandangan ini suara rakyat diidentikkan dengan suara Tuhan. Tetapi kita harus ingat bahwa mayoritas pun dapat sesat dan dapat gagal, dapat menyeleweng. Rousseau berpendapat bahwa manusia pada dasarnya atau kodratnya baik, maka dia berani membuat statement semacam ini. Orang yang mengaplikasikan langsung teori tersebut adalah Robespierre. Pada waktu dia mempraktekkan teori Rousseau dalam revolusi Perancis ternyata berakibat sangat fatal. Karena dia bertindak sebagai pelaksana kehendak rakyat ternyata mengakibatkan begitu banyak orang mengalami penderitaan. Dalam teori Rousseau ini tidak terdapat hormat akan kedaulatan Tuhan, tidak terdapat tanggung jawab kepada Tuhan. Dari titik pangkal inilah timbul satu pertanyaan: Benarkah demokrasi semacam ini dapat diidentikkan dengan demokrasi yang dimaksudkan dalam terang Alkitab? Dari titik pangkal antropologis maka agama Kristen perlu membela bentuk negara demokrasi, tetapi yang menjadi persoalan adalah demokrasi yang bagaimanakah yang menjadi dasar pertimbangan demokrasi kita.

Mengapa orang Kristen dalam konteks Roma pasal 13 di sini harus takluk kepada pemerintah, dan apakah takluk kita itu secara total dan absolut? Orang Kristen wajib tunduk kepada pemerintah karena otoritas yang ada pada pemerintah berasal dari Allah. Di dalam ayat 1b dikatakan bahwa Allah yang memberi otoritas. Di dalam ayat 1c Paulus mengatakan bahwa wewenang yang ada ditetapkan oleh Allah. Juga, melawan pemerintah berarti melawan Allah (ayat 2a), dan beresiko terhadap diri sendiri yaitu hukuman akan tiba. Itu yang dinyatakan di dalam ayat 2c. Dengan kata lain, pemerintah adalah sebuah institusi ilahi dengan otoritas ilahi di dalamnya. Pemerintah diberi wewenang ilahi untuk melaksanakan kekuasaan dengan hukum ilahi, artinya hukum yang bersifat universalitas di dalamnya.

Seorang tokoh reformasi, John Calvin mengatakan: Kapankah umat Kristen boleh menentang pemerintah? Pertama, jika pemerintah yang mengatur hukum, yang mengesahkan hukum, dan yang membuat hukum, berjalan di luar ketetapan hukum itu. Maka di situ kita boleh bereaksi, karena pemerintah sudah berlaku tidak adil. Karena hukum itu diikat di dalam kepentingan seluruh rakyat dan bangsa ini. Kedua, jika hati nurani secara individu, kehidupan orang diganggu oleh aturan-aturan hukum yang menentang aturan kebebasan hukum dari Allah (Calvin melihatnya dalam konteks ibadah), di situ kita boleh bereaksi. Tetapi Calvin mendefinisikan bahwa reaksi itu bukan tindakan anarkhis, melainkan reaksi itu dalam tindakan memperjuangkan.

Maka di dalam konteks terang Firman Tuhan kita menjumpai bahwa pernyataan "suara rakyat adalah suara Allah" harus ditolak. Pernyataan tersebut tidak selalu benar. Karena yang mayoritas dan yang banyak itu belum tentu menunjukkan kebenaran. Oleh sebab itu kita harus meneliti apakah di dalam pengambilan keputusan, dalam tiap keputusan hidup dari bangsa/negara ataupun suatu institusi apapun, benarkah mereka telah menempatkan dan memposisikan Allah yang berdaulat di dalam keputusan itu? Itu penting. Juga di Universitas Kristen Petra. Kita harus menempatkan Allah di dalam seluruh kedaulatan-Nya dalam seluruh kebijakan yang kita ambil. Dan juga perlu disadari apakah norma yang mendasari tindakan setiap pengambil keputusan itu sungguh-sungguh dengan sadar diletakkan ke dalam kehendak Allah. Kiranya Tuhan menolong kita melakukan apa yang berkenan kepada-Nya.

Para nabi berbicara secara verbal dan juga menggunakan simbol. Pada saat itu Elisa sedang berbicara melalui simbol. Di dalam Kitab Perjanjian Lama anak panah merupakan simbol kemenangan. Ketika Elisa menyuruh Yoas menembakkan anak panahnya ke arah timur, sebenarnya Yoas tahu bahwa arah timur itu merupakan domisili bangsa Aram. Sehingga ketika disuruh menembakkan anak panahnya ke arah timur mestinya Yoas sudah dapat menangkap maksudnya, yaitu bahwa dia akan diberi kemenangan. Elisa bukan berbicara melalui simbol saja, tetapi Elisa juga menjelaskan kepada Yoas: ""Itulah anak panah kemenangan dari pada Tuhan, anak panah kemenangan terhadap Aram. Engkau akan mengalahkan Aram di Afek sampai habis lenyap." Ketika Tuhan memberi perintah kepada Yoas, Tuhan juga memberi janji bahwa ia akan menang mutlak. Ketika Elisa menyuruh Yoas memukulkan anak-anak panahnya ke tanah, Yoas memukul hanya tiga kali, lalu berhenti. Elisa marah terhadap tindakan Yoas ini. Yoas melakukan kesalahan. Bila diajukan pertanyaan mengapa Yoas berhenti memukulkan anak-anak panahnya, maka jawabnya adalah karena ketidak-taatan.

Mengapa Yoas tidak taat? Ada dua jawaban. Pertama, Yoas tidak melakukan perintah Tuhan dengan kesungguhan hati. Padahal Tuhan sudah punya rencana bagi dia untuk menang mutlak atas musuhnya, Aram akan habis lenyap. Yoas gagal meresponi rencana Tuhan, meresponi kedaulatan Tuhan dengan ketaatan.

Secara politik militer, bangsa Aram memang sangat kuat, dan mustahil bagi bangsa Israel untuk mengalahkan bangsa Aram. Tetapi di situlah letak kedaulatan Allah.

Kalau Allah berkata "a" - "a", kalau Allah berkata "b" - "b". Allah memiliki kuasa atas semua bangsa-bangsa. Mungkin kita melihat dunia ini kacau. Bagi Allah tidak kacau. Ketika seorang ibu sedang menyulam, kalau sulaman itu dilihat dari bawah tampak jelek, tetapi ketika dilihat dari atas baru tampak indahnya. Kadang kita berpikir negara Indonesia kacau. Tetapi saya tidak berpendapat bahwa Indonesia kacau, oleh karena ada tangan Allah yang mengatur negara ini. Ini adalah kedaulatan Allah. Kewajiban kita adalah mengerjakan bagian kita dengan sungguh-sungguh. Kalau belajar, belajarlah sungguh-sungguh. Kalau mengajar, mengajarlah dengan sebaik-baiknya.

Kedua, Yoas tidak mengandalkan Tuhan, tetapi mengikuti pikirannya sendiri. Marilah kita hidup dengan mengandalkan Tuhan, bukan pikiran maupun kemampuan kita sendiri. Ingatlah bahwa manusia terbatas dan sangat memerlukan pertolongan Tuhan. Ingatlah juga bahwa segala sesuatu di dalam kehidupan kita berada di dalam kedaulatan Allah.

Pusat Kerohanian