OPINI
Opini untuk edisi ini tidak ada...
Editorial
Merah putih berukuran 24,4 x 47 itu akhirnya berkibar juga di malam 16 Agustus. MURI pun mengukuhkannya sebagai bendera terbesar dengan jahitan tangan yang dikerjakan oleh akademisi.
Menjahit bendera pun dilakukan secara gotong royong selama seminggu di depan kantin gedung P. Tak ada kepanitiaan khusus. Hanyalah ajakan saat para mahasiswa lalu lalang. Ajakan menjahit itu pun tak kenal gender, pria wanita sibuk menjahit.
Demikian pula saat pengibaran bendera. Mereka yang kebetulan berada di situ langsung membantu. Kenal atau tidak, tak jadi masalah.
Kesehatian, kekompakan, rasa cinta tanah air menjadi satu di malam 16 Agustus lalu. Walau bendera raksasa itu telah diturunkan, kobaran semangatnya masih terasa. Semangat kemerdekaan yang tak pernah luntur. Merdeka!
Renungan
Vox Populis Vox Deo
Dalam tema ini kita membahas satu teori yang dimunculkan oleh orang-orang yang selama ini
berkancah di dalam memikirkan bangsa dan negara, khususnya Rousseau yang berpandangan
kehendak rakyat yang berdaulat. Maka kemudian muncul suara seperti yang ditulis pada tema
kita. Apakah suara rakyat adalah benar suara Tuhan?
lanjutan...