Renungan

Kedaulatan Allah

Ev. Yakub Tri Handoko, M.Th

Kita semua tentu mengakui kedaulatan Allah dalam taraf tertentu. Bila kita meneliti lebih dalam, ternyata pengakuan akan kedaulatan Allah bukan pengakuan kedaulatan. Karena kalau kita percaya kedaulatan Allah, berarti kita percaya sesuatu yang sangat mutlak, absolut. Allah berdaulat bukan hanya terhadap hal-hal makro tetapi juga hal-hal kecil. Kedaulatan Allah hadir di dalam setiap detil kehidupan kita. Mungkin kita pernah berkata, “Ini kebetulan.” Di dalam kamus Allah, tidak ada istilah 'kebetulan' karena setiap detil berada di dalam kedaulatan Allah.

Apakah hubungan antara kedaulatan Allah dengan sikap kita? Filsafat Stoa dan Epikurianisme adalah sekolah filsafat pada zaman dulu yang mempercayai Allah berdaulat penuh dan manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Ada sebuah judul lagu yang berbunyi : "Que sera sera, what will be, will be". Apa yang terjadi, terjadilah. Kira-kira begitu juga kesimpulan filsafat Stoa dan Epikurianisme.

Tidak semua filsuf berpendapat demikian. Ada sebagian filsuf Yunani yang mengatakan bahwa dewa-dewa berada di atas, tidak boleh sampai ke bumi. Bahkan mereka berkata, “Kalau engkau menginginkan sesuatu, jangan menanyakan kepada dewa-dewa tetapi bertanyalah kepada filsuf karena dewa-dewa sedang sibuk pesta di atas sana.”

Manusia mencoba memberi respon terhadap kedaulatan Allah atau intervensi Allah dalam hidup manusia. Cara manusia meresponi kedaulatan Allah berbeda-beda. Ada yang sampai terjebak ke dalam fatalisme: pokoknya semua di dalam hidup kita sudah ditentukan, tidak perlu berusaha, semua yang sudah ditentukan pasti terjadi. Pada ekstrim yang lain, ada orang-orang yang mencoba menolak intervensi Allah di dalam hidup mereka. Pada zaman modern ada sebuah filsafat, yaitu filsafat Deisme yang mengajarkan bahwa setelah Allah menciptakan dunia, Allah tidak campur tangan lagi dalam kehidupan manusia. Tugas Allah adalah menciptakan dunia ini, setelah itu tugas manusia untuk memberi penjelasan tentang dunia ini. Allah hanya menciptakan dan tidak berintervensi dalam kehidupan manusia.

Ketika kita berbicara tentang kedaulatan Allah dan kebebasan manusia, ada orang-orang yang berpikir bahwa kedua hal ini selalu berkontradiksi, atau istilah lebih lembutnya berparadoks. Kedaulatan Allah dan kebebasan manusia bukan merupakan dua hal yang bertentangan. Kita percaya bahwa manusia bebas, tetapi kebebasan manusia tidak mutlak. Saudara berada di sini, saudara bebas, tetapi juga tidak bebas karena saudara tidak dapat berbuat sesuka saudara. Fakta bahwa semua saudara yang ada di ruangan ini duduk dan tidak ada yang berdiri menunjukkan bahwa saudara tidak bebas sepenuhnya. Saudara bebas memilih tempat duduk, tetapi kebebasan saudara berada dalam keterikatan yang lain. Tidak ada di antara saudara yang duduk menghadap ke belakang, semuanya menghadap ke depan. Ini menunjukkan bahwa ada kebebasan tetapi ada juga keterikatan.

Kedaulatan Allah dan kebebasan manusia bukan merupakan dua hal yang berkontradiksi, melainkan sebuah harmoni. Alkitab mengajarkan bahwa Allah berdaulat penuh dan manusia memiliki kebebasan di dalam kedaulatan Allah.

Di dalam kitab II Raja-Raja 13:14-19 kita membaca sebuah contoh mengenai kedaulatan Allah dan kebebasan manusia. Pada saat itu raja Yoas datang kepada nabi Elisa yang sedang sakit dan akan meninggal. Yoas menangis dan berkata: "Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!" Seorang ahli sejarah Yahudi yang bernama Flavius Josephus menyatakan bahwa rabi-rabi Yahudi menafsirkan bahwa Yoas cemas memikirkan bagaimana jadinya nasib tentaranya (tentara Israel) sepeninggal Elisa. Seolah-olah Yoas sedang mengatakan kepada Elisa: "Tolonglah aku sebelum engkau meninggal." Elisa sangat peka dan tahu apa yang ada di dalam hati Yoas, dan Elisa kemudian menolong Yoas. Elisa memerintahkan Yoas untuk membuka jendela dan memanah ke arah timur. Perintah berikutnya yang diberikan Elisa kepada Yoas adalah supaya Yoas mengambil anak-anak panahnya dan memukulkannya ke tanah. Yoas memukulkan anak-anak panahnya sebanyak tiga kali lalu ia berhenti. Elisa marah karena Yoas berhenti memukulkan anak-anak panahnya. Apakah Yoas salah? Mungkin kita beranggapan bahwa perintah yang diberikan Elisa tidak jelas, karena Elisa tidak memberitahukan harus berapa kali anak-anak panah itu dipukulkan. Tetapi Alkitab menyatakan bahwa Yoas salah. Di manakah letak kesalahan Yoas?

Para nabi berbicara secara verbal dan juga menggunakan simbol. Pada saat itu Elisa sedang berbicara melalui simbol. Di dalam Kitab Perjanjian Lama anak panah merupakan simbol kemenangan. Ketika Elisa menyuruh Yoas menembakkan anak panahnya ke arah timur, sebenarnya Yoas tahu bahwa arah timur itu merupakan domisili bangsa Aram. Sehingga ketika disuruh menembakkan anak panahnya ke arah timur mestinya Yoas sudah dapat menangkap maksudnya, yaitu bahwa dia akan diberi kemenangan. Elisa bukan berbicara melalui simbol saja, tetapi Elisa juga menjelaskan kepada Yoas: ""Itulah anak panah kemenangan dari pada Tuhan, anak panah kemenangan terhadap Aram. Engkau akan mengalahkan Aram di Afek sampai habis lenyap." Ketika Tuhan memberi perintah kepada Yoas, Tuhan juga memberi janji bahwa ia akan menang mutlak. Ketika Elisa menyuruh Yoas memukulkan anak-anak panahnya ke tanah, Yoas memukul hanya tiga kali, lalu berhenti. Elisa marah terhadap tindakan Yoas ini. Yoas melakukan kesalahan. Bila diajukan pertanyaan mengapa Yoas berhenti memukulkan anak-anak panahnya, maka jawabnya adalah karena ketidak-taatan.

Mengapa Yoas tidak taat? Ada dua jawaban. Pertama, Yoas tidak melakukan perintah Tuhan dengan kesungguhan hati. Padahal Tuhan sudah punya rencana bagi dia untuk menang mutlak atas musuhnya, Aram akan habis lenyap. Yoas gagal meresponi rencana Tuhan, meresponi kedaulatan Tuhan dengan ketaatan.

Secara politik militer, bangsa Aram memang sangat kuat, dan mustahil bagi bangsa Israel untuk mengalahkan bangsa Aram. Tetapi di situlah letak kedaulatan Allah.

Kalau Allah berkata "a" - "a", kalau Allah berkata "b" - "b". Allah memiliki kuasa atas semua bangsa-bangsa. Mungkin kita melihat dunia ini kacau. Bagi Allah tidak kacau. Ketika seorang ibu sedang menyulam, kalau sulaman itu dilihat dari bawah tampak jelek, tetapi ketika dilihat dari atas baru tampak indahnya. Kadang kita berpikir negara Indonesia kacau. Tetapi saya tidak berpendapat bahwa Indonesia kacau, oleh karena ada tangan Allah yang mengatur negara ini. Ini adalah kedaulatan Allah. Kewajiban kita adalah mengerjakan bagian kita dengan sungguh-sungguh. Kalau belajar, belajarlah sungguh-sungguh. Kalau mengajar, mengajarlah dengan sebaik-baiknya.

Kedua, Yoas tidak mengandalkan Tuhan, tetapi mengikuti pikirannya sendiri. Marilah kita hidup dengan mengandalkan Tuhan, bukan pikiran maupun kemampuan kita sendiri. Ingatlah bahwa manusia terbatas dan sangat memerlukan pertolongan Tuhan. Ingatlah juga bahwa segala sesuatu di dalam kehidupan kita berada di dalam kedaulatan Allah.

Pusat Kerohanian