Renungan
INTIMACY WITH GOD
(Andri Wisnu, M.Th.)
“Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka”(Mazmur 25:14)
Salah satu bahaya besar bagi anak-anak Tuhan ketika ia lebih senang berbicara tentang Allah daripada berbicara dengan Allah. Seorang mahasiswa teologi mengundurkan diri dari kuliahnya di Seminari karena ia merasa semangatnya menurun, imannya melemah, dan ketertarikannya kepada kekristenan mulai memudar. Padahal ia pandai dan sering lulus dengan nilai cum laude. Kemudian ia menyadari bahwa kegagalannya disebabkan karena selama ini lebih tertarik untuk berbicara tentang Allah daripada berbicara dengan Allah.
Allah bukan pengetahuan, melainkan Pribadi. Allah hadir di dalam hidup kita bukan untuk dipelajari, melainkan untuk dikenal. Hosea 6: 3 dan 6 ditulis: "Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi. 6Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran." Bila kita ingin agar kehidupan kita bergairah dan berarti, maka kita harus hidup bergaul dengan Allah. Bila kita belum melakukannya, mari segera melakukannya, jangan tunggu sampai rohani kita mati.
Bagaimanakah ukuran yang menunjukkan bahwa seseorang bergaul dengan Allah? Sampai saat ini belum ditemukan alat ukur yang dapat mengukur seberapa tinggi atau dalam hubungan seseorang dengan Allah. Hubungan seseorang dengan Allah merupakan hal yang sangat subyektif, hanya Allah dan orang itu sendiri yang mengetahuinya. Sangatlah sulit untuk melakukan pengukurannya. Kalau kita memperhatikan, ada 4 macam orang Kristen. Pertama, orang Kristen KTP (Kristen Tanpa Pertobatan), yang selama hidupnya datang ke Gereja hanya ketika dia dibaptis, menikah, dan meninggal dunia. Kedua, orang Kristen biasa-biasa, yang datang beribadah kalau lagi senang ke Gereja. Ketiga, orang Kristen sungguh-sungguh, yang benar-benar suka beribadah dan melayani Tuhan. Keempat, orang Kristen munafik, yang ketika di Gereja tampak mirip sekali dengan orang Kristen sungguh-sungguh.
Antara orang Kristen sungguh-sungguh dan yang munafik sangat sulit dibedakan, sehingga orang sering salah sangka. Salah satu ukuran eksternal dari kesungguhan kehidupan Kristen seseorang adalah melalui buah roh yang keluar dari dalam dirinya (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri - Gal. 5: 22-23). Inipun masih dapat dimanipulasi, karena Iblis itu dapat menyamar sebagai malaikat terang. Orang Kristen yang sungguh-sungguh, mengeluarkan buah karena ia telah diselamatkan, sedangkan orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh, mengeluarkan buah untuk mendapat keselamatan, atau untuk memperoleh popularitas diri, dan sebagainya.
Ukuran secara internal terpulang kepada kita masing-masing. Ada 3 pertanyaan yang dapat membantu kita. Pertama, Apakah kita berjalan dengan Allah? Di dalam Kej. 6:9 dikatakan tentang Nuh: "Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah (walk with God - NIV)." Marilah kita memeriksa diri kita, apakah kita berjalan dengan Allah di dalam seluruh perjalanan hidup kita, atau hanya di tempat-tempat tertentu saja. Kegagalan yang dialami banyak anak Tuhan adalah ketika dia mengizinkan Tuhan berjalan dengan dia hanya di tempat-tempat tertentu. Kemudian memisahkan diri dari Tuhan lalu mengikuti jalannya sendiri ketika dia mau berbuat dosa, atau mencontek dalam ujian atau berzinah atau korupsi. Nuh berjalan dengan Allah, maka ia diselamatkan dari murka Allah.
Kedua, seberapakah rasa takut kita akan Allah? Rasa takut di sini bukan takut melihat hantu seperti dalam acara televisi "paranoid", melainkan takut dalam pengertian merasa kagum dan hormat disertai gentar terhadap Allah. Ciri-ciri dari seseorang yang merasa kagum dan hormat adalah ia akan menyatakan pujian bagi orang yang dikagumi dan dihormatinya. Selain itu, kita juga senang berada di dekat orang yang kita kagumi, misalnya ketika seorang laki-laki mengagumi seorang perempuan dia akan senang berada dekat orang yang dikaguminya itu. Apakah kita senang untuk selalu berada dekat dengan Allah?
Ketiga, seberapakah kerinduan kita untuk berjalan di dalam kehendak Allah? Di dalam Maz. 25:14 yang kita baca tadi tertulis: "perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." Orang yang bergaul karib dengan Allah tentu akan berjalan di dalam kehendak Allah. Di dalam keakraban kita dengan Allah, kita harus mencapai tingkat ini yaitu berjalan di dalam kehendak Allah, dan ini berarti bahwa kita tidak lagi berjalan di dalam kehendak diri sendiri. Mungkin saat ini kita tidak lagi berjalan di dalam kehendak Iblis, tetapi ada anak-anak Tuhan yang masih berjalan di dalam kehendak diri sendiri.
Pertimbangkanlah dua pernyataan ini. "Tuhan, aku mau melakukan segala sesuatu bagi Engkau di dalam hidupku." "Tuhan, aku mau melakukan apa yang Engkau mau aku lakukan bagi-Mu di dalam hidupku."
Mungkin kita berpikir hal ini atau hal itu baik untuk kita lakukan bagi Tuhan. Tetapi kita lalai untuk menanyakan apakah hal yang kita anggap baik itu juga dianggap baik oleh Tuhan. Janganlah kita mengalami seperti yang Tuhan ingatkan di dalam Mat. 7:21-23: "21Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
Marilah kita memeriksa diri kita, seberapa karibkah hubungan kita dengan Allah. Bila selama ini kita hanya mengetahui tentang Allah, marilah segera mengambil keputusan untuk mengenal Allah dan memulai suatu hubungan yang akrab dengan Allah.
Pusat Kerohanian
Editorial
Dwipekan edisi 18 membahas tentang Community Outreach Program (COP) kembali yang diadakan mulai 12 Juli - 9 Agustus di Kediri. Simak laporan dan foto-foto di halaman 2-4. Baca juga ASC UK Petra yang akan mengadakan kegiatan di Sumatera Barat. Pada bulan ini, Dwipekan mendapat suntikan tenaga paruh waktu baru yang bergabung di jajaran redaksi. Tulisan-tulisan Iman Santoso, tenaga paruh waktu baru dapat dibaca pada edisi ini.
Renungan
Intimacy with God
Salah satu bahaya besar bagi anak-anak Tuhan ketika ia lebih senang berbicara tentang Allah
daripada berbicara dengan Allah. Seorang mahasiswa teologi mengundurkan diri dari kuliahnya
di Seminari karena ia merasa semangatnya menurun, imannya melemah, dan ketertarikannya kepada
kekristenan mulai memudar. Padahal ia pandai dan sering lulus dengan nilai cum laude.
Kemudian ia menyadari bahwa ...
lanjutan...