Berita Utama

Dicari!
PEMIMPIN IDEAL
Kepemimpinan adalah kunci dari pemerintahan, organisasi ataupun dalam
bentuk institusi. Tak pelak lagi seorang pemimpin dalam suatu institusi
dituntut untuk mengorganisir bawahan dengan baik, agar instutusinya tetap
bisa bertahan dan eksis. Lantas dikarenakan pentingnya faktor pemimpin,
bagaimanakah sifat-sifat pemimpin yang bisa membawa suatu institusi sesuai
dengan yang diharapkan? Menjawab itu, PELMA UK PETRA mengadakan seminar
sehari yang bertemakan "PEMIMPIN IDEAL: BAGAIMANAKAH PEMIMPIN YANG
ALKITABIAH ITU".
Seminar yang diadakan 3 Juli lalu menghadirkan 3 narasumber, Pendeta Dr.
David I. Santoso, Kepala Program Mandarin di Seminari Alkitab Asia Tenggara
Malang, Sendjaya serta anggota DPR RI dari fraksi PDI-P, Prof. Dr. J.
E. Sahetapy. SH., MA. Pendeta David I. Santoso mengutarakan materinya
yang bertemakan "Pelayan dan Pelayanannya". "Saat ini kita
sedang memasuki industri pelayanan dimana kepemimpinan yang melayani sebenarnya
sedang dibutuhkan saat ini. Menjadi seorang pemimpin itu tidak hanya untuk
dilayani saja. Tapi seorang pemimpin juga mesti memahami bawahannya dan
mau untuk terjun langsung dalam dunia pelayanan. Dengan melayani maka
seorang pemimpin mampu untuk mengambil keputusan dan menjalankan nahkoda
kepemimpinannya dengan bijak. Servant Leadership saat ini dibutuhkan dalam
dunia kepemimpinan," ujar David.
Selanjutnya David juga mengatakan, "Sebagai orang Kristen, kita harus
menjadi pemimpin yang Alkitabiah, dimana dengan menjadi pemimpin yang
Alkitabiah kita secara langsung merefleksikan sikap dan kesetiaan Allah."
Untuk lebih memperjelas sikap-sikap Allah, David memberikan beberapa ayat
untuk bisa direnungkan dan dijadikan pegangan dalam kepemimpinan Kristiani
yang Alkitabiah. Salah satunya bertemakan tentang pelayan, di Lukas (22:25-26)
yang mengetengahkan tentang kita sebagai pemimpin jangan hanya mau memerintah
seseorang untuk melayani kita. Tapi hendaknya kita sebagai pemimpin mau
turun tangan melayani orang lain. Karena Yesus sendiri sebagai raja datang
ke dunia ini untuk melayani umat-Nya, hingga Ia rela untuk mati disalib
mengorbankan nyawa-Nya demi orang yang dilayani-Nya. Yesus sendiri datang
sebagai hamba.
Menurut Sendjaya, kandidat Ph.D dari Monash University Australia Ph.D
untuk Servant Leadership, dunia yang kita tinggali hariini berada dalam
krisis kepemimpinan global. Dalam konteks dunia bisnis, kita melihat skandal
korporat terjadi berulang kali. World.com, enron, HIH Insurance adalah
sebagian kecil dari rentetan kasus terakhir yang menodai integritas perusahaan
multinasional. Dan setiap kali itu terjadi, hampir dipastikan itu terkait
dengan aksi para pemimpinnya.
"Gereja pun tidak lepas dari krisis kepemimpinan. Gereja seharusnya
menghasilkan pemimpin yang tinggi iman, tinggi ilmu, dan tinggi pengabdian.
Tapi yang terjadi malah terkontaminasi masalah kepemimpinan. Salah satu
yang menyebabkan hal itu terjadi adalah tidak adanya SKS kompetensi kepemimpinan
yang didapat oleh para hamba Tuhan saat mereka menempuh pendidikannya
di Sekolah Tinggi Theologia. Dan juga 80% dari pemimpin gereja saat ini
tidak punya karunia kepemimpinan. Mereka yang terjun dalam dunia kepemimpinan
gereja cenderung memaksa, tidak mau melihat bahwa mereka tidak punya karunia
untuk hal itu, sehingga akhirnya karena memaksa diri itulah yang menyebabkan
gereja kita sekarang tidak efektif yang pada akhirnya gereja menjadi sulit
untuk menghasilkan pemimpin yang ideal," kata Sendjaya.
Kepemimpinan biblikal bukanlah hal romantis yang hanya cocok untuk menjadi
bahan ceramah dan diskusi di ruang-ruang kuliah. Kepemimpinan bibikal
adalah sesuatu yang sangat realistis yang telah diimplementasikan secara
'diam-diam' di dunia bisnis. Menerapkan konsep, karakter, dan kompetensi
kepemimpinan kristen bukan sesuatu yang mudah, namun bukan sesuatu yang
mustahil juga.Penyebab lain dari ketidakefektifan gereja saat ini adalah
terjebaknya gereja dalam hal-hal yang simbolik (tidak ada aplikasinya).
Sahetapy memaparkan, "Gereja kita saat ini sudah runtuh. Mereka tidak
bisa menempatkan porsi mereka dengan benar, sehingga umatnya merasa tak
ada pengaruh yang berarti bagi mereak disaat Umat membutuhkan bantuan
gereja, tengok saja saat terjadi peristiwa pembakaran gereja, bagaimana
kita lihat kalau tidak ada tindakan konkrit dari gereja untuk menenangkan
umatnya."
Masih menurut Sahetapy, "Servant Leadership sebenarnya erat hubungannya
dengan cerita orang Samaria yang murah hati dengan moralitas tertinggi.
Dalam kisah itu, Yesus ingin mengungkapkan bahwa diri-Nya sendiri adalah
orang Samaria dengan kadar moralitas tertinggi. Pada dasarnya Yesus ingin
menegaskan tentang sikap pelayanan yang harus diwujudkan tiap kita hendaknyalah
seperti orang samaria yang baik hati itu."
Dengan adanya seminar itu, dapat diambil kesimpulan bahwa seorang pemimpin
Kristen yang ideal itu pada dasarnya pemimpin yang Alkitabiah, yang mampu
menerapkan ajaran Yesus dalam kepemimpinannya, juga yang terpenting adalah
pelayanan dalam kepemimpinan kita.
Pada akhir seminar dilaksanakan peluncuran buku yang berjudul "Kepemimpinan
Kristen, Konsep, Karakter dan Kompetensi" yang ditulis oleh Sendjaya
Ph.D(cand) diterbitkan oleh penerbit Kairos. Sendjaya memberikan buku
yang belum beredar di pasar itu kepada Rektor UK Petra serta kepada para
pembicara seminar dan wakil mahasiswa.
Dilaporkan oleh Imam
Editorial
Menjadi pemimpin ideal memang mudah secara teori. Untuk mewujudkannya dibutuhkan
motivasi dan komitmen yang kuat. Dan negara Indonesia membutuhkan dan
merindukan seorang pemimpin.
Tapi pemimpin pun memiliki banyak karakter. Servant leadership atau pemimpin
yang melayani, itu yang dibutuhkan di zaman sekarang. Paradigma tipe pemimpin
di perusahaan-perusahaan pun bergeser ke arah servant leadership.
Dan kita harus memulainya dari diri sendiri. Sebab kita adalah seorang
pemimpin, minimal pemimpin bagi diri kita sendiri. Akankah kita mewujudkan
pemimpin ideal bagi diri sendiri?
Renungan
Known by Their Fruits
Allah menghendaki supaya setiap orang percaya yang mengaku bahwa ia pengikut
Kristus...
lanjutan...