Berita Utama

Teliti Konflik Dayak dan Madura di Pontianak

Prof. Dr. Thomas Santoso, M.Si., Guru Besar Kedua UK Petra:

Sebuah momentum bersejarah bagi UK Petra, yaitu Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Thomas Santoso, M.Si, telah dilaksanakan 29 Mei 2004 lalu di Auditorium UK Petra. Dalam sambutannya J.E. Sahetapy, Guru Besar Emeritus dan Ketua YPTK Petra mengungkapkan rasa gembira dan ucapan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena telah melahirkan--bukan mengadopsi--seorang Guru Besar dari haribaan sivitas akademika UKP sendiri. "Prof. Dr. Thomas Santoso, M.Si. patut dipuji dan dibanggakan, bukan saja karena prestasi di bidang studinya S1, S2, dan S3. Tetapi terutama karena karir akademiknya tidak bertumpu pada bantuan pihak lain seperti pada karir sementara Guru Besar lainnya. Ia melaju sendiri dengan cepat dan tangkas," ujar Sahetapy. Puncak perjuangan seorang dosen adalah gelar akademik tertinggi yaitu gelar Doktor. Sementara itu, jabatan akademik tertinggi adalah Guru Besar alias Profesor, yang menjamin kebebasan dan kemandirian dalam mengasuh matakuliah yang dipercayakan kepada dosen tersebut. J.E. Sehatapy mengatakan banyak tenaga dosen yang telah memperoleh gelar S3 alias Doktor, kemudian berhenti menulis atau berkarya. "Mereka sudah puas dengan gelar akademik tertinggi dan gelarnya dipajang di dinding kamar tamu," tukas Sahetapy. Padahal setelah memperoleh gelar profesor, dosen harus terus mengembangkan ilmunya dan pemikiran teoritik yang diembannya. Semua itu membutuhkan ketekunan dan kerja keras.

Bagaimana ketekunan dan kerja keras Prof. Dr. Thomas Santoso, M.Si. dalam meraih gelar Guru Besar dalam usia yang relatif muda? Berikut penuturannya beserta cerita-cerita menarik seputar suka duka pada setiap penelitiannya yang rawan resiko: "Seorang dosen untuk menjadi Guru Besar, prasyaratnya jelas. Ia harus memenuhi sejumlah kriteria, diantaranya mempunyai angka kredit sekurang-kurangnya 850. Dari 850 angka kredit itu ada komponen yang berkaitan dengan pendidikan pengajaran, penelitian atau tulisan-tulisan karya ilmiah, dan juga pengabdian masyarakat. Ketiga hal tersebut harus terpenuhi semua dan saya melakukannya sebaik mungkin. Sejauh ini sudah ada 18 buku saya yang diterbitkan, sekitar 10 buah jurnal ilmiah, dan sekitar 80 buah makalah-makalah untuk ceramah. Menurut saya, apa yang sudah saya peroleh itu merupakan hasil dari yang sudah saya kerjakan.

Karena kriterianya sudah jelas, sebenarnya kita bisa mengatur strategi. Misalnya mengajar, seorang dosen yang mengajar sebanyak apapun mata kuliah dalam 1 semester hanya memperoleh 10 angka kredit. Selanjutnya kalau ia menulis buku, satu buku itu angka kreditnya 40. Kalau menulis jurnal, 1 jurnal ia bisa mendapat angka kredit 25. Ketika saya mengajukan diri menjadi guru besar yang prasyaratnya 850 total angka kredit saya berjumlah 1.070. Sebagian besar saya peroleh dari komponen kedua, penelitian dan karya ilmiah. Karena kalau dilihat dari mengajar, tiap semester hanya mendapat 10 angka kredit, sampai tua pun angka itu tidak akan tercapai kalau hanya mengajar saja. Jadi kalau di waktu lalu, seseorang yang ingin mencapai Guru Besar lebih banyak mengandalkan mengajar, menurut saya itu keliru. Seorang dosen memang harus mengajar, tapi ia juga punya waktu untuk penelitian dan menulis karya ilmiah. Justru itulah yang mendapat penghargaan paling banyak dari pemerintah. Sebaik mungkin saya membagi waktu antara menulis atau mengadakan penelitian dengan mengajar. Pagi sampai sore mengajar di Petra, saya menulis di malam hari. Jadi kalau saya punya keinginan untuk menulis suatu topik tertentu sudah tidak bisa dicegah. Terkadang saya kurang tidur karena mengerjakannya sampai pagi. Menurut saya, jika mendapat ide jangan menunda untuk menulisnya karena kalau tertunda ide bisa hilang walaupun itu karya ilmiah. Memang dibutuhkan ketekunan dan menyediakan waktu untuk menulis. Seseorang tidak dapat menulis kalau tidak banyak membaca dan meneliti.

Dalam beberapa penelitian ada yang saya lakukan sendiri namun juga ada yang dikerjakan dalam tim. Saya dibantu oleh beberapa teman atau mahasiswa sehingga saya tidak perlu meluangkan waktu terlalu banyak dalam pengumpulan data. Saya lebih banyak terlibat dalam analisis data ataupun penulisan. Hal tersebut saya rasa cukup menghemat waktu saya. Biasanya saya melakukan penelitian yang tidak terlalu jauh dari informasi yang selama ini saya tekuni, yaitu sosial politik. Contohnya, saya pernah melakukan penelitian mengenai nilai-nilai masyarakat Madura. Saya tertarik pada kebudayaan Madura karena waktu SMA saya bersekolah di Madura. Karena itu saya mengerti dan bisa berbahasa Madura, juga cukup kenal dengan lokasi di sana. Saya manfaatkan pengalaman itu sebagai kelebihan. Mungkin kalau orang lain melakukan penelitian di sana mungkin butuh waktu lebih lama. Namun karena saya pernah di sana itu membantu saya untuk membuat waktu penelitian jadi lebih singkat tapi dengan kualitas yang memadai.

Waktu untuk keluarga buat saya itu harus ada. Biasanya saya meluangkan waktu untuk keluarga di hari Sabtu sore sampai Minggu. Keluarga sudah mengerti bahwa mulai Senin pagi sampai Sabtu siang biasanya saya banyak aktifiitas, jadi keluarga biasanya tidak terlalu berharap saya dapat meluangkan waktu untuk mereka. Tapi kalau hari Sabtu sore sampai Minggu saya akan berikan waktu lebih banyak untuk keluarga. Kecuali kalau ada acara-acara yang penting pada hari Sabtu dan Minggu maka saya harus ganti dengan hari lain.

Bagi saya peran keluarga untuk pencapaian kesuksesan ini sangat besar. Sebetulnya kenapa sih saya terus belajar sampai S2 dan S3? Selain tuntutan bahwa saya bergerak di bidang pendidikan, ada dorongan kalau misalnya saya menugaskan anak saya untuk belajar dan saya hanya ngomong saja itu percuma. Saya pun harus belajar. Itu cara saya mendidik anak-anak saya. Jadi kalau anak saya sedang ulangan dan saya nasihati ia supaya jangan nonton TV, saya juga harus mengorbankan keinginan saya walaupun ada acara TV yang menarik. Akhirnya kami sama-sama tidak nonton TV dan baca buku bersama. Seringkali anak saya mendorong saya juga untuk sama-sama belajar.

Kebanggaan saya adalah anak-anak saya. Putra saya yang paling besar sudah kuliah di UK Petra jurusan Akuntansi dan saat ini menjadi ketua HIMA. Dan yang kedua sudah SMU kelas 2. Hal yang paling menyenangkan adalah ketika saya dan anak-anak ke mal biasanya secara otomatis kami langsung ke toko buku. Mereka punya kesenangan untuk membaca buku. Jadi karena saya sendiri suka baca buku anak-anak saya juga suka baca buku. Hal tersebut juga mendorong saya untuk terus belajar dan membaca. Tentang ketertarikan pada bidang sosial dan politik sebenarnya sudah dijelaskan dalam pidato pengukuhan saya secara singkat. Ketika itu saya masih di taman kanak-kanak, dan terjadi peristiwa G30S PKI. Suatu hari sepulang dari sekolah saya sempat menyaksikan beberapa tindakan kekerasan dan pemukulan di jalan-jalan. Saya bertanya-tanya mengapa manusia itu seperti itu? Hal itu mengganggu pikiran saya dan saya mendapat banyak jawaban setelah saya mempelajari buku-buku ilmu sosial. Mungkin peristiwa masa kanak-kanak itu menimbulkan trauma, tapi buat saya hal itu menimbulkan rasa ingin tahu, mengapa hal seperti itu bisa terjadi.

Kalau cerita sedikit tentang thesis saya, dalam thesis S3 saya membuat penelitian mengenai kekerasan politik agama, yaitu perusakan tempat-tempat ibadah. Saya mencoba menemukan suatu hal yang baru dalam setiap thesis saya. Kalau selama ini ada gereja yang dirusak, orang akan berasumsi bahwa gereja dirusak karena orang Islam. Juga waktu ada masjid dirusak maka orang muslim akan menanggapi pasti karena orang Kristen. Nah, saya membuat suatu thesis mengenai bagaimana cara berpikir orang-orang komunitas bukan Kristen sampai mereka merusak gereja. Saya mengikuti jalan berpikirnya mereka dengan terjun langsung ke pondok pesantren di daerah Tapal Kuda Situbondo selama 2 tahun. Saya senang sekali karena saya harus belajar hal yang baru. Kalau meneliti pada komunitas Kristen bagi saya itu sudah biasa tapi kalau di komunitas baru seperti di pondok pesantren saya harus belajar banyak; cara berpikir mereka dan kebiasaan-kebiasaan mereka.

Sesuatu yang baru itu menantang buat saya. Jadi walaupun waktu menyusun thesis ini banyak orang termasuk dosen saya mengatakan bahwa resikonya terlalu besar untuk orang seperti saya, saya maju terus. Studi saya kebanyakan seperti itu karena beberapa tahun terakhir sejak tahun 1996 saya menekuni studi maraknya persoalan kekerasan sampai tahun 1997. Suatu saat saya ke Kalimantan Barat, ketika itu sedang marak konflik antara Dayak dengan Madura di Pontianak. Jadi waktu lagi rame-ramenya kerusuhan itu saya ke sana. Waktu saya berangkat sebenarnya ada pemikiran juga kalau saya akan mengalami banyak kesulitan. Karena kalau melihat struktur fisik saya bisa disangka orang Dayak tapi kan orang Dayak bisa mencium mana orang Madura dan bukan. Masalahnya saya pernah tinggal di Madura, saya kuatir jangan-jangan oleh orang Madura saya dianggap orang Dayak, dan oleh orang Dayak saya dianggap berbau Madura. Tapi di luar dugaan, ternyata setelah kesana malah menguntungkan. Saya dapat diterima oleh komunitas Dayak dan mendapatkan informasi. Dengan komunitas Madura pun saya bisa mendapat informasi dengan bekal saya bisa berbahasa Madura. Singkatnya, informasi bisa saya dapatkan dari dua belah pihak. Kejadian yang paling mendebarkan adalah waktu mengadakan penelitian tahun 1996. Waktu itu ada 10 rumah ibadah dibakar di Surabaya Utara dan peristiwa di Situbondo 1996. Waktu itu saya sedang aktif di kegiatan kemasyarakatan dalam merehabilitasi tempat ibadah yang dirusak dan memperjuangkan hak-hak kelompok minoritas. Oleh karena aktifitas saya itu beberapa kali nama dan foto saya dimunculkan di surat kabar. Nah, itu yang kadang-kadang menimbulkan hal yang kurang menyenangkan bagi saya dan keluarga. Seringkali ada teror lewat telepon. Kalau hal tersebut ditujukan untuk saya, saya masih bisa mengatasi, tapi kalau ditujukan untuk keluarga kan mereka tidak siap. Jadi memang ada resikonya, tapi saya rasa setiap aktifitas apapun pasti ada resikonya.

Pengalaman yang menyenangkan pasti banyak. Kalau selama ini kita selalu berpandangan bahwa orang-orang yang berasal dari komunitas atau kelompok-kelompok yang terkait itu berbeda dengan kita. Pada kenyataannya setelah kita berinteraksi dengan mereka ternyata mereka bisa menerima kita. Contohnya saja di komunitas pesantren, orang pasti tidak bisa membayangkan komunitas pesantren seperti apa, tetapi setelah saya berinteraksi disana, saya seringkali diundang mereka kalau ada acara-acara atau resepsi. Itu merupakan penghargaan bagi saya. Bahkan mereka juga membuat istilah-istilah yang di satu sisi merupakan guyonan tapi di satu sisi juga merupakan bentuk penghargaan bagi saya. Di pesantern Situbondo mereka menyebut saya 'Santri Tanpa Syahadat'. Biasanya kan santri itu rajin menjalankan sholat 5 waktu, jadi kalau ada orang Islam yang hanya KTP disebut santri tanpa sholat. Jadi agamanya Islam tapi tidak pernah sholat. Karena saya ini bukan Islam tapi saya bolak-balik ke pesantren, mereka menyebut saya 'Santri Tanpa Syahadat'. Saya masuk ke pesantren tapi tidak mengakui Muhammad sebagai nabi. Bagi saya istilah tersebut diciptakan khusus untuk saya jadi sebetulnya mereka memperhatikan saya, mereka menerima saya.

Saya rasa terkait dengan kondisi masyarakat terutama di UK Petra yang kebanyakan orang Kristen dan peranakan Tionghoa, mereka begitu trauma dengan peristiwa G30S PKI. Sehingga bagi orang Tionghoa kalau mau belajar ilmu politik bisa-bisa mereka kehilangan kepalanya, tetapi kalau mau belajar ilmu ekonomi paling-paling kehilangan dompetnya. Resikonya lebih kecil bagi mereka kalau belajar teknik dan ekonomi, ditambah lagi itu lebih mendatangkan uang. Tapi sebenarnya politik adalah sesuatu yang netral. Politik adalah semua aktifitas yang berkaitan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang mengikat masyarakat luas. Jadi apapun yang kita putuskan dan itu menyangkut orang lain itu sudah politik. Misalnya saja orang berpacaran, ketika ia memutuskan siapa pacarnya dan dengan siapa dia menikah, ia sudah berpolitik. Juga ketika seseoarang berpacaran ia pasti sudah melakukan upaya untuk mempengaruhi pasangannya, itu sudah berhubungan dengan kekuasaan, dan itu disebut politik. Kemudian ketika ia menikah, ia harus berhadapan dengan institusi pemerintah, mengurus surat perkawinan, dan ia melibatkan dua keluarga yang berbeda untuk menjadi satu itu sudah merupakan kegiatan politik sebenarnya. Politik sebenarnya sesuatu yang netral. Sama seperti waktu kita menggunakan suatu alat, sound system misalnya, sound system itu kan netral, kalau kita gunakan di ruang kebaktian misalnya manfaatnya positif, tapi kalau digunakan di night club alat tersebut bisa menjadi negatif karena disalah gunakan. Nah, politik juga sama, politik itu netral, jadi kalau orangnya mau memanfaatkan dengan baik itu bisa positif.

Kalau mahasiswa Petra itu kemudian alergi dengan politik, wah jangan sampai deh. Dalam ilmu politik ada suatu pernyataan bahwa kalau kita menjauhkan diri dari politik maka politik yang akan mendatangi kita. Jadi orang tidak bisa lepas dari politik. Ada pemilu kita harus ikut pemilu, kita Golput pun sudah suatu bentuk politik. Jadi manusia tidak bisa lepas dari politik. Kalau saya lihat mahasiswa Petra beberapa tahun terakhir ini aktifitas mereka dalam kegiatan politik sudah banyak kemajuan. Mulai tahun 1998 mereka mulai aktif berdemo dan menyuarakan isi hati kepada pemerintah. Kalau anda pernah lihat buku saya berjudul Sosiologi Politik yang saya ajarkan di Fakultas Ekonomi, covernya adalah mahasiswa Petra yang sedang berdemo di gedung DPRD Surabaya. Saya ingin menunjukan bahwa selain saya mengajarkan mahasiswa sosiologi politik, saya juga menunjukkan bahwa kakak kelas mereka sudah melakukan tindakan seperti ini. Lainnya, adalah ketika peristiwa 9 Juni 1996, 10 gereja dirusak. Waktu itu Ibu Magda bersama mahasiswa dari Petra, Ubaya, Unair, dan ITS mengadakan kebaktian di puing-puing gereja yang dirusak itu. Waktu itu mereka sambil menggunakan helm karena masih ada yang melempari dengan batu. Saya rasa sebenarnya mahasiswa itu berani karena ada keinginan untuk terlibat. Karena mereka punya pemahaman politik yang baik jadi saya rasa pasti akan ada perbaikan dari tahun ke tahun."

Demikian cerita Prof. Dr. Thomas Santoso, M.Si., seorang pengajar yang tekun dan cinta keluarga ini tentang kisah di balik kesuksesannya meraih gelar Guru Besar Fakultas Ekonomi UK Petra. Seperti diungkapkan oleh J.E Sehatapy mengutip ucapan Winston Churchill, "Is not the beginning, is not the end, but the beginning of the beginning", besar harapan UK Petra agar generasi muda dosen UK Petra dapat mengikuti jejak dan teladan Prof. Dr. Thomas Santoso, M.Si.

Dilaporkan oleh Eva