Renungan

Seminar Perspektif Hidup 2004: Membangun Reruntuhan Moral

Dilaporkan oleh: Eva

Masih ingat 'Jakarta Undercover'? Sebuah novel sensasional karya Moamar Emka yang mengisahkan kehidupan seks liar warga ibu kota yang masih hangat diperbincangkan. Benarkah perilaku orang muda masa kini sudah sedemikian bebas?

Orang muda memang memiliki karakteristik yang rentan terhadap perilaku demikian. Satu penyebabnya adalah mereka sangat mudah dipengaruhi oleh kawan-kawannya. Bermula dari rasa ingin tahu dan coba-coba itulah akhirnya mereka terdorong untuk terjerumus dan terjebak dalam seks bebas dan penggunaan obat-obatan terlarang.

Dengan jumlah penduduk 213 juta, Indonesia memiliki 30 % atau sekitar 62 juta penduduk dengan kategori berusia 10-24 tahun. Prihatinnya, berbagai survei yang diadakan di 12 kota besar di Indonesia menunjukkan 5,5 - 11 % orang muda telah melakukan hubungan seksual sebelum usia 19 tahun. Apabila dari 62 juta orang muda ini terdapat 10 % dari mereka yang telah menyatakan diri aktif dalam kegiatan seksual, maka ada 6,2 juta remaja yang sedang menghadapi berbagai resiko, baik dalam kaitan kesehatan, psikologis maupun moralnya. Bagi jutaan orang muda, masalah seksualitas yang timbul terkait dengan perkosaan, kekerasan, dan pelecehan seksual.

Suatu angka menakjubkan menyebutkan bahwa 51,5 % remaja melakukan hubungan seksual di tempat kos. Ditambah lagi, Lembaga Swadaya Masyarakat Sahabat Anak dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia) menyebutkan bahwa 44,8 % mahasiswa PTN dan PTS serta remaja di Bandung telah malakukan hubungan seks hampir sebagian besar di wilayah rumah kos mereka. Bagaimana bisa para mahasiswa ini menjadikan tempat kos-kosan sebagi ajang prostitusi dan dasar apa yang membuat mereka terjebak dalam budaya seks bebas?

Telah mengguritanya industri pornografi baik di kalangan anak-anak, remaja maupun orang dewasa terus merembes ke dalam acara televisi, film, games, komputer, playstation, vcd, komik, majalah, internet, dan sebagainya. Dengan keadaan demikian bukankah dampak kekacauan moralitas juga akan mempengaruhi kehidupan semua strata baik dari anak-anak, remaja, orang muda maupun orang dewasa. Hal ini sekaligus merupakan tantangan bagi setiap mahasiswa UK Petra yang kelak akan menjadi pemimpin serta harapan bangsa. Mampukah mahasiswa Kristen bertahan dan memberikan dampak di tengah suatu format kehidupan yang mengakui bahwa aktifitas tersebut sudah dianggap biasa?

Dalam Seminar Perspektif Hidup 2004 yang terselenggara Jumat, 28 Mei lalu digelar sebuah diskusi tentang bagaimana membangun reruntuhan moral dalam kehidupan orang muda dewasa ini. Bertindak sebagai narasumber bidang Theologia adalah Roland Octavianus (Rektor I3 Batu) dan narasumber bidang Psikologi, Dra. Iis Achsa, Sth MK (Ketua Perkantas Jatim). Ruang Audio Visual gedung T 502 telah dipadati mahasiwa ketika Dra. Iis Achsa, Sth MK menjelaskan problematika yang kerap dialami orang muda melalui kacamata psikologis. Iis menerangkan bahwa bila seorang remaja memiliki 75 % teman high-risk atau teman yang memiliki tingkah laku beresiko tinggi, pengguna narkotika misalnya, memungkinkan remaja tersebut untuk menjalani kehidupan yang high-risk juga. "Berdasarkan penelitian, satu-satunya alasan mengapa seorang remaja putri menolak untuk melakukan hubungan seks pra-nikah adalah faktor keyakinan imannya," ujar Iis.

Ia menutup presentasinya dengan menegaskan bahwa free sex bukan salah satu pilihan tapi merupakan larangan. Roland Octavianus melanjutkan diskusi dengan memaparkan rona-rona kehidupan orang muda dari sudut pandang theologia atau iman kristiani. Rektor sekolah theologia di kota Batu ini ternyata mantan bandar narkoba yang pernah menjalani hidup tanpa arah walaupun ia dibesarkan di keluarga yang baik-baik.

Roland mengajak mahasiswa untuk menyadari bahwa sebagai insan tebusan Allah, nilai hidup manusia begitu agung dan mahal. Dengan demikian hendaknya mahasiswa dapat mengarahkan pembangunan nilai hidup dan tidak membiarkan hidupnya tertuju pada hal yang sia-sia. Mahasiswa telah dicipta menurut gambar dan rupa Allah, maka mahasiswa harus siap untuk hidup tepat seperti harkat yang seharusnya. Seluruh rangkaian Seminar Perspektif Hidup 2004 siang itu diakhiri dengan komitmen bersama untuk mau membangun reruntuhan moral dalam masyarakat saat ini.