OPINI
PEMILU PRESIDEN 2004 dan TANTANGAN GLOBALISASI
Oleh : Jermias Marthinus Patty , SH. *
Komisi Pemilihan Umum (KPU), 22 Mei 2004 pukul 16.55 mengumumkan calon presiden dan wakil presiden yang memenuhi syarat untuk dipilih secara langsung oleh rakyat Indonesia 5 Juli mendatang. Pasangan calon yang memenuhi syarat tersebut ditetapkan Surat Keputusan Nomor 36 tentang Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Menjadi Peserta Pemilu Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden 2004.
Kelima pasangan calon yang memenuhi syarat adalah Hamzah Haz-Agum Gumelar, Megawati Soekarnoputri- Hasyim Musadi, Amien-Rais-Siswono Yudo Husodo, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, dan Wiranto-Salahuddin Wahid. Sementara, pasangan Abdurrahman Wahid-Marwah Daud Ibrahim tidak masuk dalam daftar calon yang memenuhi syarat.
Pemilihan umum presiden dan wakil presiden 2004 merupakan momentum politik yang penting dan strategis bagi kesinambungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Melalui mekanisme ini, rakyat secara langsung menunjukkan kedaulatannya dalam menentukan arah perjalanan bangsa melalui pemilihan secara langsung.
Persaingan sengit akan mewarnai pemilu presiden 2004 karena lima paket calon akan bertarung, kelima-limanya memiliki peluang yang relatif sama karena kemampuan dan reputasi mereka. Di sisi lain mayoritas rakyat telah memiliki kesadaran politik yang cukup memadai untuk merespon setiap dinamika dalam kehidupan politik. Kondisi ini akan memberikan dampak yang signifikan bagi tinggi rendahnya kualitas pemilu tersebut sehingga calon yang terpilih diharapkan mendapat legitimasi yang kuat dari rakyat.
Kita sebagai bagian dari dinamika ini, berkewajiban secara aktif dan kritis memainkan peran politiknya melalui pemberian hak suara secara bertanggung jawab. Penentuan pilihan ini semestinya didasari oleh pemahaman yang tepat mengenai setiap figur yang bersaing disertai dengan pengenalan secara mendalam akan agenda perjuangan yang mereka ajukan.
Paket Presiden-Wakil Presiden yang akan menjadi pilihan kita hendaknya memiliki platfom yang pluralitas, memegang teguh prinsip-prinsip kebangsaan, berjiwa kerakyatan dan program-program yang ditawarkan berorientasi pada pengisian agenda reformasi. Dengan kata lain figur yang tidak memiliki latar belakang sejarah dan pengalaman politik yang justru kontra produktif terhadap jalannya reformasi.
Salah satu penyebab utama yang mengakibatkan krisis multidimensi di Indonesia belum teratasi adalah persoalan kepemimpinan nasional. Ketiadaan kepemimpinan nasional yang mendapat legitimasi kuat dari rakyat dan kepemimpinan nasional yang mengalami pergantian di tengah masa kepemimpinan sebagaimana yang dialami duet Megawati dan Hamzah Haz menambah beban dalam perjalanan menata persoalan bangsa ini. Megawati dan Hamzah Haz yang mengambil alih kepemimpinan Abdurahman Wahid terbukti tidak dapat menjalankan tugas secara maksimal, walau tidak dipungkiri bahwa kemajuan yang signifikan dalam berbagai aspek telah ada hasilnya.
Pergantian sistem politik yang semakin demokratis melalui kepemimpinan nasional secara langsung adalah suatu peluang berharga bagi rakyat untuk memilih kepemimpinan nasional yang boleh melanjutkan proses perubahan yang sedang terjadi saat ini. Untuk mendapatkan pemimpin yang sesuai dengan harapan, rakyat perlu lebih dekat mengenal calon-calon yang akan bertanding memperebutkan kursi presiden tersebut. Rakyat perlu difahamkan mengenai kriteria pemimpin yang mampu membawa bangsa ini keluar dari krisis multidimensi, yakni pemimpin memiliki komitmen dan integritas pribadi yang tinggi.
Saat ini kita memasuki era globalisasi yang walaupun belum dilakukan seluruh benua tapi dampak yang diberikan mulai dibicarakan, dari segi positif sampai negatif. Globalisasi bagi bangsa Indonesia dapat memberi dampak yang sangat berpengaruh bagi budaya, ekonomi, sosial - politik bahkan akan berpengaruh langsung pada Ketahanan Nasional bangsa Indonesia.
Saat ini, bangsa Indonesia masih berada dalam perkembangan ekonomi yang sampai sekarang belum pulih dari krisis. Dan negara ini akan goyah lagi apabila dihantam oleh globalisasi jika kemampuan, produktivitas masyarakat tidak ditingkatkan sesuai dengan kemampuan bangsa lain, sehingga bisa bersaing di dalam pasar globalisasi. Sebagai upaya untuk mengatasi tantangan masa depan bangsa ini maka kita sebagai bangsa yang besar memerlukan pemimpin yang memiliki wawasan ketahanan yang luas. Karena era globaslisai akan mempengaruhi masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.
Aspek pertama, sosial-politik yang juga akan terpengaruh globalisasi. Keadaan sosial politik bangsa akan berpengaruh ataupun dipengaruhi oleh dunia luar dan bisa merubah paham dan asas yang sudah dianut. Ini akan melemahkan Ketahanan Nasional Indonesia dan menurukan wibawa bangsa di mata bangsa lain.
Aspek kedua, dalam kehidupan tatanan nasional akan dipengaruhi secara langsung juga dengan globalisasi. Untuk itu diperlukan kebijakan -kebijakan dari pemerintah hasil pemilu presiden 2004 untuk dapat mengatasinya.
Aspek ketiga, apabila kebijakan-kebijakan pemerintah salah maka globalisasi akan memperlemah Ketahanan Nasional. Pemerintah diharuskan mengambil langkah dan kebijakan untuk mengaantisipasi gelombang globalisasi di masa mendatang.
Sudah tentu kita selaku warga negara sangat peduli dan langsung berkepentingan terhadap perkembangan yang terjadi dalam negara kita. Kepedulian itu terutama berkenan dengan cita-cita reformasi sebagai hal yang telah tumbuh dalam masyarakat luas, dan agenda yang mendesak ialah memberantas dan mengakhiri kejahatan kemasyarakatan dan kenegaraan berupa korupsi, kolusi dan nepotisme. Terdapat suasana umum dalam masyarakat yang memandang bahwa agenda itu belum terwujud dengan baik.
Seperti kebanyakan warga negara, kita pun menyadari betapa rumitnya persoalan itu, dan besarnya tantangan yang dihadapkan kepada kita dalam usaha mengatasinya. Maka kita juga tidak punya presentasi untuk dapat menjawab tantangan itu dan menyelesaikan permasalahan secara tuntas. Kami pun berharap kepada calon-calon pemimpin yang nantinya akan memimpin bangsa ini kelak. Kami yakin bahwa keselamatan masyarakat, bangsa dan negara mutlak bergantung seberapa jauh pimpinan negara ini dapat melaksanakan agenda reformasi, khususnya dalam memberantas KKN.
Selain itu pemimpin yang akan datang juga harus berjuang keras dalam proses pertumbuhan perjalanan bangsa ini menuju suatu tatatanan di era kehidupan globalisasi. Tentunya pemimpin yang harus mewujudkan makna keindonesiaan yang hakiki, utuh dan menyeluruh yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Pemilu presiden 5 Juli 2004 merupakan harapan masyarakat, dengan penuh pengharapan kami berkeyakinan figur yang layak mengisi kursi kepemimpinan nasional memiliki kapasitas untuk membawa bangsa ini keluar dari krisis multidimensi dengan tetap menjamin masyarakat hidup dengan damai dan demokratis di mana negara telah menuju suatu era globalisasi yang penuh dengan tantangan kehidupan. Karena tugas negara adalah memenuhi atau menjamin terselengaranya apa yang menjadi hak dari warganegara dan menuntut dilaksanakan apa yang menjadi kewajiban warganegara serta mejaga keseimbangan pelaksanaan hak dan kewajiban.
Tugas kita dan merupakan kewajiban kepada negara nantinya adalah mensukseskan pemilu presiden 5 Juli yang kian dekat, bila tiba saatnya nanti, maka biarlah rakyat memilih sesuai dengan hati nuraninya.
Penulis adalah karyawan Universitas Kristen Petra Surabaya.
Editorial
Jadwal Terbit Dwipekan
Periode Juli - Agustus 2004
- Edisi 17, Terbit 13 Juli 2004
- Edisi 18, Terbit 20 Juli 2004
- Edisi 19, Terbit 10 Agustus 2004
- Edisi 20, Terbit 24 Agustus 2004
Batas akhir penyerahan naskah:
Senin pertama dan ketiga
Renungan
Seminar Perspektif Hidup 2004
Membangun Reruntuhan Moral
lihat..