Renungan
Pentingnya Hidup yang Bersaksi
Oleh: Pdt. Didi Tirtowidjojo, M.Th.
Banyak orang yang hidup di dunia ini dalam keadaan bertaruh. Mereka tidak
mengetahui ke mana mereka sedang pergi dalam kehidupan ini, apakah
ke sorga atau. Banyak orang di sekitar kita sedang terhilang jiwanya
dan memerlukan keselamatan.
Allah mempunyai maksud bagi anak-anak-Nya di dunia ini, yaitu supaya
kita mengasihi sesama manusia kita yang sedang terhilang dan memberitakan
Injil keselamatan kepada mereka agar mereka juga diselamatkan.
Di dalam perumpamaan Tuhan Yesus mengenai domba yang hilang di Lukas
15, kita melihat betapa gembala itu rela bersusah-payah pergi mencari
seekor dombanya yang tersesat sampai ia menemukan domba itu. Dan setelah
gembala menemukan dombanya, ia tidak memukul domba itu karena telah merepotkan
dia melainkan merangkulnya dan membawanya pulang dengan gembira. Setibanya
di rumah, ia mengajak sahabat-sahabatnya dan tetangga-tetangganya untuk
bersukacita bersama dengan dia karena dombanya yang hilang telah ditemukan.
Homer pernah mengatakan bahwa di antara semua ciptaan, ciptaan yang paling
sedih adalah manusia. Kita melihat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk
yang lebih kejam, tidak ada makhluk yang lebih menyedihkan daripada manusia
berdosa. Namun manusia yang berdosa itu berharga di mata Tuhan dan dikasihi
oleh Tuhan. Di dalam Lukas 19:10 Tuhan Yesus berfirman: "Sebab Anak
Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." Tuhan
demikian mengasihi manusia yang berdosa, sehingga Ia rela meninggalkan
sorga, turun ke dunia ini, menanggung kesusahan, kehinaan, dan penderitaan
yang demikian berat untuk menyelamatkan manusia berdosa.
Kita yang dulu terhilang, telah ditemukan dan diselamatkan oleh Tuhan.
Kita telah menerima kasih Tuhan. Kita yang telah mengalami kasih Kristus,
akan juga mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang dan rindu untuk membawa
Injil keselamatan kepada mereka.
Sebagaimana Allah Bapa mengutus Tuhan Yesus ke dalam dunia ini, Tuhan
Yesus mengutus kita ke dalam dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan
yang terhilang. Setiap kita yang telah diselamatkan diutus untuk melaksanakan
amanat agung Tuhan Yesus yang dinyatakan di Matius 28:19-20: "Karena
itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam
nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai
kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Misi lahir karena ada orang-orang yang mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang.
Kita mengetahui orang-orang yang rela meninggalkan kehidupan yang enak
maupun kehormatan untuk pergi ke tempat-tempat yang terbelakang, terpencil,
kepada orang-orang asing, untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang.
Pada pertengahan abad 19 Hudson Taylor meninggalkan Inggris untuk memberitakan
Injil di China. William Carey pergi ke India menjelang akhir abad 18.
David Livingstone, seorang dokter dan peneliti besar, pada pertengahan
abad 19 pergi memberitakan Injil ke Afrika yang saat itu masih merupakan
benua gelap yang tak dikenal. John Sung melepaskan semua ijazah dan gelar
akademik yang telah ia capai dan kemudian berkeliling Asia untuk menyampaikan
berita keselamatan kepada orang-orang di Asia. Ibu Theresa bekerja keras
melayani orang-orang yang termiskin di Calcutta untuk menyampaikan kasih
Kristus kepada mereka. Billy Graham berkeliling untuk memberitakan Injil
kepada orang-orang di berbagai belahan dunia.
Apakah orang-orang yang berharga bagi kita adalah orang-orang yang dihormati,
atau dikenal sebagai orang baik atau orang berguna? Apakah orang-orang
yang terhilang juga berharga bagi kita? Pernahkah kita peduli akan mereka?
Sebagaimana para misionaris tersebut di atas, ada harga yang harus kita
bayar ketika kita memberitakan Injil. Relakah kita bersusah-payah untuk
membawa jiwa-jiwa yang terhilang kembali kepada Tuhan?
Ingatlah firman Tuhan: "Ada sukacita besar di sorga karena satu
orang berdosa yang bertobat." Demikian juga dinyatakan oleh Tuhan
di dalam perumpamaan mengenai anak yang hilang: Betapa bapa anak itu
bersukacita dan mengadakan pesta ketika anaknya yang terhilang itu kembali.
Marilah kita jangan menjadi orang-orang Kristen yang lesu, acuh tak acuh
kepada sesama kita yang sedang terhilang. Sebagai orang-orang yang telah
diselamatkan oleh Tuhan, bila kita ingin menyenangkan hati Tuhan, kita
tentu akan memberitakan Injil. Marilah kita dengan kasih mencari jiwa-jiwa
yang terhilang dan membawa mereka kembali kepada Tuhan.
Pusat Kerohanian
Editorial
SELAMAT ATAS PENGUKUHAN
PROF. DR. THOMAS SANTOSO
sebagai
GURU BESAR FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KRISTEN PETRA
Berita Utama
In Memoriam
Ferry Teguh Santosa, Anggota Dewan Penyantun YPTK Petra
lihat..
Seputar Kampus
35 Tahun pengabdian Jonathan Sutrisno di UK Petra
lihat..
Agenda Kampus
ILC FILM SHOW
lihat..