OPINI

Kunjungan Pembelajaran Jurusan Teknik Sipil:
Mengenalkan Mahasiswa Baru dengan Dunia Kerja
Banyak mahasiswa Indonesia di Jepang kesulitan beradaptasi dengan budaya
di Jepang. Mereka telah terbiasa menerima pelajaran dari guru atau dosen
seperti yang pernah mereka terima di Indonesia. Mahasiswa datang ke kuliah
untuk menerima ilmu dari sang dosen.
Harapan untuk menerima ilmu tersebut tentu saja segera pudar karena kebanyakan
profesor di Jepang tidak memberikan ilmu secara umum, melainkan hanya
mengungkapkan riset atau latar belakang matematika dari riset yang sang
profesor sedang geluti. Begitu mendalam yang dia ungkapkan sehingga mahasiswa
merasa ilmu tersebut tidak berguna karena terlalu teoritis. Mahasiswa
yang tidak terbiasa belajar sendiri tentu saja akan mengabaikan apa yang
diungkapkan sang professor karena harapan mereka masih terletak pada
nilai dari mata kuliah. Makin kecewa mereka ketika kebanyakan profesor
akan memberikan nilai A atau B+ untuk pekerjaan rumah dan ujian walaupun
si mahasiswa tidak mengerti apa-apa.
Masalah seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi apabila mahasiswa
Indonesia telah mempersiapkan diri dengan baik secara mental dan budaya.
Memahami mengapa sistem pendidikan di Jepang berbeda dengan di Indonesia
serta mengerti tujuan pendidikan di Jepang merupakan langkah awal yang
baik untuk mulai beradaptasi.
Pada prinsipnya, tujuan profesor di Jepang memberikan kuliah adalah agar
mahasiswa mampu membaca jurnal dalam bidang ilmu tersebut dan mulai mengembangkan
ide baru berdasarkan teori yang telah ada. Nilai mata kuliah bagi profesor
di Jepang secara umum bukan harga evaluasi pengetahuan yang diketahui
mahasiswa. Nilai mata kuliah hanyalah berfungsi untuk adminsitratif saja.
Perusahaan yang menerima alumi lulusan univeritas di Jepang umumnya tidak
bertanya berapa IPK mereka, melainkan berapa jumlah publikasi dan apa
yang baru dari riset yang digeluti. Kolusi di Jepang merupakan budaya
yang kuat. Untuk mengatasi hal itu, bagi mereka diinginkan fakta yang
lebih kuat: jumlah publikasi dan ide baru dari riset. IPK atau nilai
mata kuliah terlalu mudah dibuat dan dimanipulasi via kolusi.
Hal lain yang membuat profesor di Jepang segan memberikan nilai buruk
adalah karena budaya Jepang. Mereka telah mempelajari bahwa memberikan
evaluasi negatif akan berdampak negatif pada kejiwaan mahasiswa. Mereka
tabu untuk mengungkapkan sesuatu yang diperkirakan akan mempermalukan
seseorang. Nilai buruk juga dianggap akan mempermalukan mahasiswa di
kemudian hari, sehingga sangat jarang untuk diberikan (kecuali sangat
keterlaluan malasnya).
Nilai A dan B+ hanyalah membedakan tingkat keseriusan mahasiswa di dalam
belajar. Mahasiswa yang “Majime” atau serius belajar sendiri,
dapat berharap mendapat nilai A, yang lain silakan mendapatkan nilai
B+ atau B. Diharapkan nilai yang baik akan menyemangati mahasiswa untuk
belajar sendiri lebih lanjut.
Sebagai kontras, sistem pendidikan tinggi di Indonesia mengadopsi sistem
pendidikan barat dimana mahasiswa datang ke perguruan tinggi untuk menerima
ilmu. Istilahnya “menimba ilmu” dari sang dosen. Penekanan
terletak pada pengajaran (teaching) dan mata kuliah.
Di negara-negara barat, seperti Amerika dan Eropa, dosen bekerja selain
mengajar juga mengembangkan riset mereka. Ilmu yang dikembangkan melalui
riset diseminarkan melalui banyak konferensi ilmu pengetahuan. Ilmu sang
profesor selalu baru karena mereka didanai oleh universitasnya untuk
itu. Pengembangan ilmu adalah tugas profesor dan mahasiwa S3 saja. Mahasiswa
S2 hanyalah untuk persiapan bagi riset independent di studi S3 nantinya.
Riset untuk pengembangan ilmu pengetahuan telah memperoleh sistem yang
baku dari berbagai sumber mulai dari militer, perusahaan, organisasi
ilmu pengetahuan, sampai ke universitas itu sendiri. Dengan sistem ini,
universitas “menjual” ilmu pengetahuan. Mahasiswa “membeli” ilmu
pengetahuan. Masyarakat yang ingin membeli ilmu pengetahuan terbaru silahkan
datang ke universitas untuk membelinya.
Cara menjual ilmu pun berbagai macam cara, mulai dari paket kecil satu
atau dua mata kuliah, kuliah malam, kuliah musim panas, ataupun dalam
paket besar dengan mendapatkan gelar. Umur untuk kuliah tidak menjadi
masalah. Mulai belasan tahun hingga umur delapan puluhan pun dapat masuk
kembali ke bangku kuliah. Celakanya untuk Indonesia, secara umum pengembangan
ilmu oleh dosen hampir tidak ada karena kondisi ekonomi dan tuntutan
keluarga yang mendesak. Yang ada hanyalah ilmu praktis yang merupakan
pengulangan dari pengetahuan yang telah didapat terdahulu.
Sistem ‘jual-beli’ ilmu tersebut masih berlangsung, namun
yang dijual bukan ilmu terbaru melainkan ilmu yang telah usang. Beruntungnya
untuk Indonesia, begitu banyak lulusan S2 dan S3 baru dari dalam maupun
luar negeri. Pada master dan doktor baru inilah yang merupakan kunci
utama bagi universitas di Indonesia untuk menyampaikan ilmu terbaru.
Walaupun setelah beberapa tahun ilmu mereka akan tertinggal juga karena
kondisi yang ada, banyaknya jumlah pendatang baru ini menyeimbangkan
sistem yang ada untuk sementara waktu.
Dalam jangka panjang, apabila jumlah lulusan S3 di Indonesia telah mencukupi,
jelas sistem pendidikan di Indonesia perlu diubah. Berbeda dengan sistem
pendidikan di negara barat, sistem pendidikan tinggi di Jepang dibuat
berdasarkan budaya asal dari Jepang sendiri. Mereka tidak mentah-mentah
mengadopsi sistem pendidikan barat.
Apabila di universitas Amerika, mahasiswa menerima ilmu, di Jepang, mahasiswa
tidak semata-mata menerima ilmu, melainkan penekanan lebih kepada pengembangkan
ilmu dan belajar mandiri. Dalam pemikiran orang Jepang, ilmu bukanlah hal
statis. Ilmu itu dinamis dan selalu berkembang, berubah menurut penemuan
terbaru. Sistem pembelajaran model barat yang diadopsi di Indonesia, lebih
sesuai untuk ilmu yang statis. Seakan-akan apa yang diajarkan telah dibakukan
dan tidak akan berubah lagi.
Ketika pengembangan ilmu pengetahuan tidak secepat saat ini, sistem pendidikan
barat dapat diterima. Kenyataan yang ada, pengembangan ilmu sangatlah pesat.
Apa yang kita ketahui 10 tahun lalu telah banyak yang berubah. Apabila
sistem pendidikan lebih mengutamakan untuk mahasiswa menerima ilmu, setelah
lulus dan menggunakan ilmu tersebut dalam dunia kerja pun, perlu kembali
lagi menjadi mahasiswa lagi untuk menerima yang terbaru.
Sistem pendidikan di Jepang lebih mengutamakan mahasiswa untuk belajar
sendiri. Setelah lulus, kapan pun mereka dapat memperbaharui ilmu mereka
sendiri. Internet, buku-buku dan majalah maupun perpustakaan umum, maupun
universitas tersedia sebagai sumber ilmu pengetahuan. Simbolisnya, bukan
memberikan ikan, melainkan memberikan pancing.
Tujuan pendidikan tinggi di Jepang bukan semata-mata memberikan kesempatan
bagi mahasiswa untuk menerima ilmu, melainkan untuk mengembangkan dan memberikan
ilmu tersebut bagi masyarakat. Proses pemberian ilmu bagi masyarakat bukanlah
setelah selesai belajar, melainkan pada saat studi, yakni melalui publikasi
dan presentasi.
Hal ini sungguh menjadi masalah bagi banyak mahasiswa Indonesia di Jepang
yang masih mengharapkan untuk menerima ilmu, bukan mendapatkan ilmu dengan
belajar sendiri, mengembangkan ilmunya dan memberikan pada masyarakat.
Cara berpikir mereka yang tidak mengerti atau tidak bersedia beradaptasi
dengan sistem pendidikan di Jepang itulah yang merugikan mereka sendiri.
Kesempatan dan fasilitas belajar dan penelitian yang sangat memadai tidak
mereka pergunakan dengan baik.
Keluhan beberapa mahasiswa yang tidak mendapatkan cukup pengetahuan di
Jepang sebenarnya cukup menggelikan mengingat hal itu merupakan usaha mereka
sendiri. Makin tidak serius mahasiswa dalam belajar sendiri, makin sedikit
pula yang mereka dapatkan. Di Jepang, mahasiswa tidak semata-mata menerima
ilmu, melainkan penekanan lebih kepada pengembangkan ilmu dan belajar mandiri.
Hampir semua universitas di Jepang merupakan universitas riset. Fasilitas,
pola kerja dosen maupun mahasiswa disesuai semuanya untuk riset dan publikasi.
Mulai tahun pertama hingga ketiga, mahasiswa S1 di Jepang belajar ilmu
di kelas secara umum seperti halnya mahasiswa di negara lain. Mulai tahun
ke empat tingkat S1, mahasiswa masuk laboratorium dan mendapatkan meja
dan komputer serta akses ke internet kecepatan tinggi. Berbagai jurnal
ilmu pengetahuan internasional dapat diakses dari komputer di laboratorium.
Kebanyakan makalah jurnal internasional tersebut bahkan dapat di-download
secara gratis karena perpustakaan universitas membayar akses tahunan.
Keperluan fotokopi jurnal, maupun buku dapat diminta ke profesor pengelola
laboratorium dan dibantu perpustakaan secara handal. Biasanya dalam waktu
kurang dari 2 minggu, semua makalah maupun buku yang dipesan dapat diperoleh.
Mahasiswa acapkali tidak menyadari bahwa biaya riset, fasilitas ruangan,
komputer, perangkat lunak komputer maupun pengadaan literatur tersebut
sangat mahal.
Hal ini karena mahasiswa memang tidak perlu membayar biaya fotokopi.
Karena riset hanya dapat dilihat hasil yang dapat diukur dari publikasi
dan patent. Beberapa laboratorium bahkan memberikan insentif pemberian
biaya perjalanan, hotel dan pertemuan bagi mahasiswa yang dapat mempresentasikan
risetnya ke konferensi nasional maupun internasional.
Perbedaan universitas besar dan univeritas kecil di Jepang terletak pada
pengadaan fasilitas riset dan insentif. Dengan fasilitas yang relatif
baik, dan bantuan keuangan bagi mahasiswa, universitas di Jepang mengharapkan
mahasiswa dapat menikmati iklim kerja yang memungkinkan hasil riset yang
baik.
Mulai dari tahun ke empat tingkat S1, mahasiswa belajar bersama dalam
satu laboratorium, digolong-golongkan sesuai dengan kelompok belajar
dari riset yang ingin mereka geluti. Mereka wajib mempresentasikan riset
mereka hampir tiap minggu, maupun memberikan presentasi atas apa yang
mereka telah pelajari secara pribadi pada kelompok belajar mereka.
Selain itu, beberapa bulan sekali, mereka perlu memberikan presentasi
pada beberapa profesor dalam bidang terkait. Selain skripsi yang berupa
hasil riset, mereka juga minimal satu kali perlu mengirimkan makalah
dan memberikan presentasi dalam masyarakat ilmuwan dan profesional pada
akhir studi mereka di S1.
Mahasiswa yang belajar dengan serius akan ditawarkan untuk melanjutkan
ke tingkat S2 berbulan-bulan sebelum lulus S1. Di kala belajar di tingkat
S2 pun, kebanyakan mahasiswa akan melanjutkan apa yang telah mereka kerjakan
di tahun sebelumnya. Mahasiswa S3, selain melakukan riset mereka sendiri,
juga perlu membangun kelompok belajar mereka sendiri serta membantu membimbing
mahasiswa S2 dan S1. Dengan kerja sama yang akrab dan bertahun-tahun
dalam satu laboratorium yang sama, semangat kepemimpinan, kemampuan pengambilan
keputusan dan kerja sama telah ditanamkan. Bagi mahasiswa Jepang, tingkat
S2 maupun S3 lebih merupakan akumulasi dari riset yang pernah dikerjakan
di tingkat sebelumnya.
Untuk mahasiswa asing yang masuk mulai tingkat S2 maupun S3, kerja dan
belajar mandiri yang lebih keras tentu saja diperlukan. Mereka dibandingkan
rekan - rekan orang Jepang telah ketinggalan satu hingga tiga tahun dalam
riset karena mulai dari tingkat yang lebih tinggi.
Kuliah bukanlah hal yang sangat penting bagi mahasiswa S2 dan S3. Bahkan
beberapa program studi telah menghapus semua perkuliahan dan menggantinya
dengan sistem seminar. Dalam sistem seminar, mahasiswa belajar sendiri
kemudian menyampaikan apa yang telah dipelajari pada rekan mahasiswa
yang lain maupun profesornya. Makin aktif seorang mahasiswa membangun
kelompok belajar maupun seminar mereka sendiri, makin sibuk dan makin
banyak yang dia dapatkan. Sebaliknya mahasiswa yang relatif lemah, akan
dibantu oleh rekan-rekan dalam kelompok belajar yang sama.
Tentu saja, sistem pendidikan tinggi di Jepang bukan hal yang ideal.
Justru masih jauh dari itu. Apa yang kelihatan masih perlu ditingkatkan
di sistem pendidikan Jepang adalah pengenalan secara umum atas ilmu pengetahuan.
Pengajaran dalam bentuk pengalaman kerja maupun riset ataupun latar belakang
matematika yang mendalam masih memerlukan pengetahuan umum tentang struktur
letak ilmu tersebut diantara ilmu lain yang telah ada. Lulusan perguruan
tinggi di Jepang juga kekurangan pengetahuan praktis, walaupun kuat di
ilmu pengetahuan teoritis. Alumni perguruan tinggi di Jepang umumnya
perlu diberi kursus singkat di perusahaan tempat mereka bekerja selama
beberapa bulan sebelum benar - benar siap untuk melakukan tugasnya. Mereka
bukan lulusan siap pakai, melainkan lulusan yang terlatih berpikir dan
mandiri.
Tentang Penulis:
Dr. Kardi Teknomo adalah dosen di Universitas Negri Saga, Jepang dan
juga staf pengajar di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Beliau menyelesaikan
studi lanjutnya di Universitas Tohoku, Jepang.
Silahkan kunjungi situs beliau di http://people.revoledu.com/kardi
Eva
Editorial
Kunjungan Pembelajaran yang sudah dilaksanakan Jurusan Teknik Sipil
UKP ternyata disambut dengan antusias oleh mahasiswanya yang baru menginjak
tahun pertama. Program ini tentunya menolong mahasiswa dalam mempelajari
teori-teori di kelas. Pada bagian lain, Pusat Kerohanian telah membuat
11 Stations of The Cross yang dapat ditemukan mulai Gedung T dan P sampai
berakhir di Entrance Hall. Perenungan yang dibuat dengan jalan mencari
sendiri station berikutnya tentunya sangat menarik, apalagi bila Anda
memberikan hasil perenungan dan menempelkan di papan yang sudah disediakan,
sehingga Paskah 2004 bisa menjadi berkat bagi banyak orang.
Berita Utama
Kunjungan Pembelajaran Jurusan Teknik Sipil:
Mengenalkan Mahasiswa Baru dengan Dunia Kerja
lihat..
Seputar Kampus
Teknik Mesin Gelar Workshop
"Learning Attitude
to Face The 21st Century"
lihat..
STATIONS OF THE CROSS
lihat..
Agenda Kampus
Semester 2, 2003/2004: Australian Film Show
lihat..
30 April 2004
Accounting Friendship Day
“Play It With Colour Say It With Flower”
lihat..