Berita Utama
Iraishimase, Sambut Pengunjung di Kafe Perhotelan
Sejak 18 Agustus lalu, di gedung A lantai 2 terdapat sebuah kafe yang dikelola oleh mahasiswa jurusan Manajemen Perhotelan. Kafe tersebut diberi nama Oishii, yang berarti enak. "Pemberian nama itu bukan pilihan dari jurusan, tapi kelompok kami yang berdiskusi menetapkan nama kafenya, sesuai dengan namanya, hal tersebut membuat kami selalu terpacu untuk memberikan yang terbaik pada para pengunjung," ujar Cindy, kapten kafe yang bertugas.
Adanya kafe ini untuk memenuhi persyaratan dari mata kuliah MOH (Manajemen Operasional Hotel). Lewat mata kuliah ini, mahasiswa diharuskan untuk membentuk satu tim yang kemudian mengelola sebuah kafe. "Tema dari kafe diundi, jurusan punya tema Jepang, Perancis, Jerman dan Finlandia. Kebetulan kelompok kami memperoleh tema Jepang," ujar mahasiswi Manajemen Perhotelan angkatan 2001 ini.
Mulai dari lantai 1 gedung A, sudah terasa suasana Jepang. Di sisi kanan dan kiri tangga dibuat gapura dari bambu penanda selamat datang. Pada bagian atas terdapat tulisan Oishii Cafe dan di sebelah kiri tangga terdapat tulisan kanji Jepang juga menu dari Oishii Cafe.
Begitu kita masuk ke dalam cafe, suasana Jepang mulai terasa kental. Para pelayan kafe menggunakan pakaian tradisional ala Jepang. Dekorasinya juga mengisyaratkan akan kentalnya budaya Jepang. Ada batang bunga sakura, lampion dan yang paling penting, pelayan kafe di sekitar pintu masuk selalu mengucapkan salam Iraisimase yang berarti selamat datang, jika ada pengunjung. Jika pengunjung kafe keluar, pelayan kafe akan mengucapkan Arigato Gosaimasu yang berarti terimakasih.
"Soal menu makanan, kami mengambil dari buku resep, internet dan mungkin beberapa sudah diajarkan di kelas. Tapi menu-menu itu tidak langsung kami ambil untuk disajikan. Kami modifikasi dulu agar sesuai dengan lidah para pengunjung kafe," jawab Cindy ketika ditanya tentang menu kafe. Walaupun sudah dimodifikasi, menu itu tidak langsung begitu saja bisa diterima tapi melewati tahapan food test. Pada food test yang dinilai adalah tingkat kemahalan harga makanan, kelayakan untuk disajikan serta kadar alkohol untuk kategori beverages.
Kafe yang buka dari 18 Agustus - 3 September ini cukup ramai dikunjungi mahasiswa. Bahkan Cindy tak menduga bakal seramai itu. "Minat mahasiswa luar biasa terhadap kafe kami," ujar Cindy sambil tersenyum. Dengan jumlah personel 31 orang, Oishii kafe menggunakan sistem rolling untuk menjaga kafe. Dari 31 personel, dibagi lagi menjadi 3 kelompok kecil. Lewat kelompok kecil itulah mereka bergantian menjaga kafenya.
Modal untuk mengelola kafe dipinjami oleh UK Petra. Untuk kafe Oishii, mereka memperoleh pinjaman sebesar Rp 3,65 juta. "Setelah masa pengelolaan kafe habis, kami harus membuat anggaran yang nantinya dipertanggungjawabkan ke jurusan. Keuntungan akan kami bagi rata dengan tim. Sebelumya harus dipotong untuk membelikan jurusan sebuah alat yang bisa berguna bagi adik kelas kami nantinya," terang Cindy.
Kafe Oishii juga memiliki penawaran spesial, yaitu paket breakfast. "Pukul 8-10 pagi, kami mempunyai paket breakfast. Menunya adalah Yakimashi dan teh. Paket itu di jual dengan harga Rp 5 ribu per paket," terang Cindy. Menu andalan Oishii kafe adalah Nikutori steak, Shusi dan Chawan Musi.
Iman
Editorial
Bertambah setahun lagi usia Dwipekan. Terbitan September 2004 menjadi terbitan yang ke-28. Usia 28 tahun tentunya merupakan usia yang cukup matang. Setidaknya kematangan ini terwakili dengan isi rubrik yang berkualitas sesuai dengan visi yang diemban Dwipekan.
Pada edisi 1 di tahun ke-28, segenap redaksi Dwipekan mengucapkan terimakasih untuk partisipasi sivitas akademi UK Petra dalam memberikan informasi sehingga Dwipekan menjadi bacaan yang selalu up to date.
Renungan
WARNA PERSAHABATAN
Di suatu masa warna-warna dunia mulai bertengkar Semua menganggap dirinyalah
yang terbaik, paling penting, paling bermanfaat dan paling disukai.
HIJAU berkata, "Jelas akulah yang terpenting. Aku adalah pertanda kehidupan dan harapan. Aku dipilih untuk mewarnai rerumputan, pepohonan dan dedaunan. Tanpa aku, semua hewan akan mati. Lihatlah ke pedesaan, aku adalah warna mayoritas..."